Home / Opini

Jumat, 9 Oktober 2020 - 13:15 WIB

Jangan Menyerah Menyintai Negerimu

Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis Freelance

AtjehUpdate.com,- Bekasi |Saat krisis ekonomi, di Jepang buruh demo menuntut penurunan gaji. Ini karena sense of belonging buruh terhadap perusahaan tinggi sekali. Mereka tak ingin perusahaannya bangkrut.

Mereka setia kepada perusahaan tempat kerjanya. Mereka berusaha membesarkan perusahaan bersama-sama. Perusahaan pun peduli terhadap buruh. Buruh adalah aset perusahaan yang selalu diperhatikan kesejahteraannya.

Orang Jepang punya peribahasa: Hidup itu hakikatnya “makan” makanan di tempat yang sama. Makna dari peribahasa ini: Kita harus memperkuat rasa saling memiliki pada suatu komunitas atau grup dengan “makan” makanan yang sama. Ini mengacu pada situasi ketika orang-orang hidup bersama dan tinggal di satu atap yang sama.

Baca Juga :  Makin Mesra Dengan Eksekutif, Fungsi Kontrol Dewan Aceh Tamiang Tergadaikan

Dalam skala mikro buruh dan tempat kerjanya berada dalam kondisi itu. Dalam skala makro, kita hidup dalam tanah air dan udara yang sama. Dalam skala makro kosmos — manusia hidup di jagad universe yang sama.

Kenapa kondisi tersebut terjadi di negeri Sakura? Jawabnya: Nasionalisme yang subur, terpupuk, dan cinta tanah air. Pada tataran lebih tinggi, Zen Budhisme — mazhab agama yang mempengaruhi orang Jepang — menyatakan, jika kau menyayangi alam, maka alam pun menyayangimu.

Baca Juga :  Pengenaan Pasal 54 UU Cukai Kepada Sopir & Kernet, Sudah Tepatkah?

Jangan menyerah menyintai negerimu. Jangan menyerah mencintai alam kehidupanmu — meski “anda duduk di atas batu selama tiga tahun” — kata peribahasa Jepang. Peribahasa ini maknanya: Meskipun Anda mengalami masa-masa sulit, duduk di atas batu selama tiga tahun, pasti suatu saat akan berubah dan menjadi lebih baik.

Sekali lagi, jangan menyerah untuk menyintai negerimu. Rasulullah menyatakan, hubbul wathon minal iman. Menyintai negeri adalah sebagian dari iman.

Bagaimana bentuk menyintai negeri? Tidak merusaknya.(red)

Share :

Baca Juga

Opini

Dewan Terjepit : Menjaga Martabat, Dibabat Eksekutif

Aceh

Pengelolaan Hutan Aceh & Perdamaian : Apakah Kita Masih Bersaudara ?

Opini

Ketua DPRA Jangan Coba-coba Mengkhianati Rakyat Aceh dengan Melemahkan Qanun LKS

Opini

UU ITE, Quo Vadis Demokrasi Indonesia

Opini

MEDCOGATE

Aceh

Dapatkah Bea Cukai Langsa Ungkap Aktor Intelektual Peredaran Rokok Ilegal?

Opini

Anggota DPR Harus Tempatkan Masyarakat Sebagai Pihak yang Paling Penting

Aceh

Rapor Merah Kepala Kantor Beacukai Langsa