Di titik inilah Gadjah Puteh menajamkan kritiknya. Pak Jenderal bukan sekadar simbol Jenderal adalah Panglima Tertinggi sekaligus Kepala Pemerintahan. Jika negara menyebut ini “perang melawan bencana,” maka komando tertinggi ada di tangan Pak Jenderal. Ukuran keberhasilan komando bukan pada narasi konferensi pers, bukan pada seragam yang turun ke lapangan, dan bukan pada klaim “hari pertama,” melainkan pada satu hal sederhana: apakah rakyat selamat, apakah bantuan tiba tepat waktu, apakah listrik dan air benar-benar hidup, apakah jalur logistik benar-benar terbuka, dan apakah kelompok paling rentan tidak menjadi korban kedua setelah banjir.
Jika pemerintahan ini mengklaim sebagai pemerintahan komando, maka komando itu harus tampak dalam SOP yang jelas, rantai koordinasi yang tajam, data dan peta mitigasi yang dibuka, peringatan dini yang tersambung dengan aksi dini, serta keputusan cepat yang memotong birokrasi. Komando bukan slogan; komando adalah sistem yang bekerja sebelum tragedi. Jika komando hanya hadir saat kamera menyala, yang terjadi hanyalah parade di atas lumpur bukan penyelamatan.
Bagi Gadjah Puteh, narasi “perang melawan bencana” justru berakhir dengan kekalahan telak negara di hadapan alam. Jika ini perang, yang kalah bukan sekadar strategi, tetapi kepemimpinan dan sistem. Dan seperti perang pada umumnya, yang paling menderita adalah warga sipil masyarakat biasa yang kini membersihkan lumpur tebal di rumah mereka, kehilangan mata pencaharian, serta menghadapi ancaman penyakit tanpa kepastian pemulihan yang cepat.
Kegagalan ini bukan semata soal teknis tanggap darurat. Ini adalah kegagalan struktural: rusaknya ekosistem, buruknya tata kelola izin, lemahnya mitigasi, hingga absennya komunikasi risiko yang jujur kepada publik. Selama negara lebih sibuk membuktikan “kita sudah hadir” ketimbang memastikan dapur warga kembali mengepul dan air bersih mengalir, kekalahan akan terus berulang.
Pak Jenderal, alam telah menunjukkan kekuatannya. Perang kali ini dimenangkan oleh musuh banjir, longsor, dan lumpur. Yang tertinggal hanyalah rakyat korban perang yang tidak pernah mereka pilih berdiri di antara puing, menunggu apakah panglima dan pemerintahan benar-benar akan belajar, atau kembali mengulang kekalahan yang sama pada bencana berikutnya.(red)





