AtjehUpdate.com., Jakarta – Gadjah Puteh menilai pernyataan Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, yang secara terbuka menyebut kondisi penerimaan negara khususnya pajak dan Bea Cukai dalam keadaan parah harus dijadikan momentum serius oleh Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan pembenahan menyeluruh, bukan sekadar wacana di ruang akademik dan media.
Sejalan dengan mandat Presiden kepada Hashim untuk membenahi sektor strategis penerimaan negara, Gadjah Puteh secara tegas meminta agar dilakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh terhadap mutasi besar-besaran yang baru saja dilakukan di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam satu hingga dua hari terakhir telah terjadi mutasi hampir mencapai seribuan pegawai, mencakup staf pelaksana, pejabat fungsional, hingga pejabat pengawas, termasuk sejumlah posisi yang sebelumnya justru dipertahankan.
Gadjah Puteh menilai mutasi dalam skala besar dan waktu yang sangat singkat ini tidak dapat dipandang sebagai rotasi administratif biasa, melainkan patut diduga memiliki motif dan kepentingan tertentu. Gadjah Puteh mensinyalir adanya dugaan keterlibatan tangan-tangan kotor dalam proses mutasi tersebut, yang berpotensi menjadi gerakan perlawanan internal terhadap arah pembenahan dan reformasi yang tengah didorong oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurut Gadjah Puteh, pola mutasi yang muncul justru memperlihatkan anomali struktural yang selama ini menjadi keluhan di internal Bea Cukai maupun di mata publik. Jabatan-jabatan strategis terkesan hanya berputar di kelompok yang itu-itu saja, sementara aparatur dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi yang memadai justru tersisih dari posisi strategis. Fenomena ini oleh Gadjah Puteh disebut sebagai ironi birokrasi: “generasi sarjana ditarik giginya, Diploma I STAN terbenam, sementara Diploma III STAN melesat bagaikan peluru.”





