Gadjah Puteh memperingatkan bahwa klaim prematur semacam itu bukan hanya menyesatkan publik, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan warga secara perlahan. Debu sisa lumpur banjir yang menyelimuti kota disebut bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman kesehatan serius yang bisa memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Jangan main-main dengan data. Akibat pembersihan yang tidak tuntas ini, warga kini dihantui ancaman ISPA. Anak-anak dan lansia dipaksa menghirup udara beracun setiap hari. Kalau dibilang sudah 90 persen bersih, kenapa warga masih sesak napas saat keluar rumah?” tambahnya dengan nada geram.
Selain menyoroti polusi debu, Gadjah Puteh juga membongkar fakta ketimpangan penanganan di permukiman padat. Alat berat dan armada pembersih dinilai hanya difokuskan pada jalan-jalan protokol untuk kepentingan dokumentasi dan publikasi, sementara gang-gang sempit serta lorong-lorong rumah warga justru nyaris tak tersentuh secara maksimal.
Kondisi di lorong permukiman disebut masih sangat memprihatinkan. Endapan lumpur tebal masih memblokir akses, membuat warga kesulitan beraktivitas dan memperlambat pemulihan kehidupan normal. Tanpa bantuan alat penyemprot bertekanan tinggi (water jet) dari pemerintah, warga mengaku kewalahan membersihkan lumpur yang mulai mengeras dan sulit diangkat secara manual.
Menutup keterangannya, Gadjah Puteh menuntut BNPB dan pemerintah daerah untuk segera menghentikan narasi sukses dini yang dinilai melukai perasaan korban dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Selain itu, pemerintah diminta mengerahkan armada penyiraman jalan secara masif dan rutin untuk menekan polusi debu ekstrem, serta memastikan pembersihan masuk hingga ke pintu rumah warga bukan berhenti di jalan raya semata.
“Rakyat butuh bukti lingkungan yang bersih dan sehat, bukan angka persentase di atas kertas,” pungkasnya.(red)





