AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang | 19 Januari 2026 – Klaim keberhasilan penanganan pascabencana yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menuai sorotan tajam dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gadjah Puteh. Narasi pemerintah yang menyebut progres pembersihan telah mencapai 90 persen dinilai sebagai klaim sepihak yang “asal-asalan” dan bertolak belakang dengan fakta mengerikan di lapangan.
Kritik ini menguat setelah BNPB melalui pemberitaan media nasional menyampaikan bahwa 90 persen jalan utama di Kabupaten Aceh Tamiang diklaim telah bersih dari lumpur sisa banjir.
Koordinator Penanggulangan Bencana di Aceh Tamiang, Brigjen TNI Mochammad Arif Hidayat, menyebutkan bahwa sepekan ke depan ditargetkan seluruh jalan di Aceh Tamiang sudah bersih dari lumpur. Bahkan, menurut klaim BNPB, tumpukan kayu yang sempat viral di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin disebut telah dibersihkan 100 persen, dengan kayu-kayu dikeluarkan dan ditumpuk di luar lokasi serta sebagian digeser untuk dijadikan tanggul. Dalam pernyataannya, BNPB juga menyebut pembersihan di Desa Suka Jadi dan Karang Baru sudah mulai dilakukan dan menunjukkan perkembangan yang baik, serta proses pembangunan huntara tahap dua dan huntara mandiri sedang berjalan di sejumlah titik.
Namun, Gadjah Puteh menilai klaim tersebut tidak boleh dijadikan alat membangun citra “sukses dini” di atas penderitaan warga. BNPB diminta tidak terjebak pada pola laporan “Asal Bapak Senang” demi terlihat bekerja cepat, sementara ribuan warga Aceh Tamiang masih menderita dan hidup dikepung sisa bencana yang belum benar-benar tuntas.
Dalam pantauan terbarunya, Gadjah Puteh menemukan kejanggalan logika yang fatal antara data statistik pemerintah dengan realita lingkungan.
Direktur Eksekutif Gadjah Puteh menegaskan, jika benar 90 persen wilayah sudah bersih, seharusnya kualitas udara membaik dan aktivitas warga kembali pulih. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kondisi udara disebut semakin ekstrem dan berbahaya.
“Klaim 90 persen itu angkanya dari mana? Faktanya hari ini jarak pandang di jalanan sangat terbatas karena tertutup debu yang begitu pekat, persis seperti kabut asap kebakaran hutan. Ini bukti nyata bahwa lumpur kering sisa banjir belum terangkut maksimal, hanya digeser, lalu beterbangan dilindas kendaraan,” kecam pihak Gadjah Puteh.





