Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga pernah mendorong pengukuran ulang HGU PTPN IV Cot Girek setelah masyarakat memprotes sebagian kebun mereka diklaim masuk dalam areal perusahaan.
Dalam situasi seperti ini, peran intelijen keamanan menjadi sangat vital. Pendekatan yang dibutuhkan bukan hanya hukum, tetapi juga kemampuan membaca akar persoalan, meredam ketegangan, membuka komunikasi, dan memastikan setiap pihak tetap berada dalam koridor keamanan dan ketertiban.
Kombes Pol Said Anna Fauza dinilai memiliki kemampuan tersebut. Ia hadir sebagai figur strategis yang mampu menjembatani kepentingan keamanan negara dengan keresahan masyarakat. Dalam banyak perkara sosial di Aceh, termasuk sengketa agraria, konflik kepentingan ekonomi, dan dinamika masyarakat akar rumput, peran Ditintelkam menjadi penting untuk memastikan bahwa penyelesaian tidak hanya mengejar akhir perkara, tetapi juga menjaga martabat masyarakat dan stabilitas daerah.
Kiprah tersebut sejalan dengan semangat Hari Bhayangkara ke-80: Polri Presisi untuk Negeri. Polri tidak hanya hadir saat terjadi gangguan keamanan, tetapi juga bekerja sebelum konflik pecah, sebelum keresahan meluas, dan sebelum persoalan sosial berubah menjadi krisis.
Kombes Pol Said Anna Fauza sendiri resmi mengisi jabatan Dirintelkam Polda Aceh setelah mutasi pejabat utama Polda Aceh pada 2025. Sebelumnya, ia tercatat menjabat sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Kamneg Baintelkam Polri.
Dengan latar pendidikan Akabri 1997 dan Sespimti, serta pengalaman panjang di bidang keamanan negara, Said Anna Fauza memiliki kapasitas untuk membaca persoalan Aceh secara lebih luas. Aceh bukan daerah biasa. Aceh memiliki sejarah panjang, dinamika politik khusus, kekuatan adat, posisi ulama, eks kombatan, persoalan agraria, investasi, hingga trauma konflik masa lalu. Karena itu, pendekatan keamanan di Aceh harus dijalankan dengan kehati-hatian, kepekaan, dan kecerdasan sosial.
Di sinilah peran Dirintelkam menjadi menonjol. Banyak kerja intelijen tidak tampil di panggung depan, tetapi hasilnya terasa ketika masyarakat tetap tenang, konflik dapat dikendalikan, aksi massa tidak berkembang menjadi benturan, dan komunikasi antar pihak tetap terbuka.
Dalam konteks HUT Bhayangkara ke-80, sos





