AtjehUpdate.com, | Jakarta – Langkah politik Partai NasDem yang secara tegas memutuskan untuk tidak bergabung dalam kabinet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming di pemerintahan mendatang memunculkan banyak tanda tanya di kalangan publik. Pernyataan resmi dari Sekretaris Jenderal DPP NasDem, Hermawi Taslim, pada Minggu (13/10/2024), menegaskan bahwa NasDem tetap akan mendukung pemerintahan, namun memilih untuk tidak mengambil posisi dalam kabinet. Langkah ini tentu memicu spekulasi, apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan ini?
NasDem Fokus pada Pemikiran, Bukan Jabatan
Hermawi Taslim menjelaskan bahwa NasDem lebih memilih untuk memberikan kontribusi berupa pemikiran yang dapat membantu pemerintahan daripada mengambil posisi fisik di kabinet. Menurutnya, pikiran-pikiran NasDem akan lebih berarti jika diterima oleh pemerintah dibandingkan dengan hanya mendapatkan kursi di kabinet.
“Menurut kita, pikiran-pikiran kita kalau diterima itu jauh lebih penting daripada kita masuk dalam kabinet,” ujarnya di kawasan Senen, Jakarta Pusat.
Meski begitu, NasDem menegaskan bahwa mereka tetap akan menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo-Gibran dan mendukung kebijakan yang dianggap tepat. Pernyataan ini seolah ingin menunjukkan bahwa meski tanpa jabatan formal di kabinet, NasDem masih ingin berkontribusi.
Keputusan yang Mengundang Tanda Tanya
Publik lantas bertanya-tanya, apa yang menjadi alasan sebenarnya di balik keputusan ini? Apakah ada dinamika politik internal yang belum terungkap ke permukaan? Mengingat sebelumnya Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, juga menegaskan bahwa partainya tidak memprioritaskan untuk masuk dalam kabinet. Dalam sebuah konferensi pers di NasDem Tower pada 19 September 2024, Paloh bahkan menyatakan bahwa NasDem lebih memprioritaskan partai lain yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk mendapatkan kursi menteri.
“NasDem memberikan kesempatan kepada Prabowo untuk memprioritaskan partai-partai politik di luar NasDem masuk di kabinet,” tegas Paloh.
Pernyataan ini menimbulkan kesan bahwa NasDem seolah rela berada di garis belakang, memberikan ruang lebih besar kepada partai lain, seperti Golkar dan PKS, yang juga tengah berbicara mengenai jatah kursi menteri di pemerintahan baru ini.





