Di lapangan, cerita lebih sederhana dan lebih kejam. Ada urusan rumah yang bocor, jalan yang seperti parit musim hujan, dan anak-anak yang masih menunggu beasiswa yang katanya “sedang diproses”. Pemerintah kabupaten bergerak; kunjungan simbolis, program rutilahu yang diumumkan, dan foto seremonial di unggahan prokopim. Tapi simbol kadang seperti payung plastik: cantik dipajang, rapuh bila hujan deras. RRI dan berita lokal mencatat kunjungan dan janji perbaikan rumah; kata mereka, sebagian akan terealisasi di anggaran berikutnya. Penduduk menaruh kitab sabar di rak paling mudah dijangkau.
Lucunya, di tengah segala ketidakpastian itu, ada juga trofi komunikasi: penghargaan untuk keterbukaan informasi. Trofi itu dipasang rapi di rak publikasi sebuah peringatan manis bahwa pemerintah bisa jadi juara dalam menyampaikan berita, sementara warga juara menunggu tindakan. Penghargaan komunikasi memang penting; tapi bila komunikasi hanya sibuk merayakan diri, kapan program yang dijanjikan benar-benar menapak tanah?
Begitulah Aceh Tamiang saat ini: kabupaten yang menunggu perubahan dengan kesabaran yang hampir jadi kebiasaan. Warga menaruh harap pada seragam putih dan pengalaman politik, sambil mengawasi angka-angka anggaran dan tong-tong bantuan yang tiba terlambat. Mereka membutuhkan lebih dari kunjungan photo-op dan surat keputusan mereka butuh jalan yang tidak bolong, atap yang tidak bocor, sekolah dengan guru penuh energi, dan cairan beasiswa yang bukan sekadar nama di daftar.
Kalau Armia dan Ismail mau membaca realitas bukan dari layar teleprompter, melainkan dari meja makan warga, jalan kampung, dan surat keluhan yang belum dijawab, maka penantian itu bisa berakhir. Kalau tidak, Aceh Tamiang hanya akan menukar satu poster janji dengan poster lain berganti wajah, tetap sama penantian.
Dan sampai saat itu warga akan terus menunggu, bukan karena pasif, melainkan karena strategi paling sederhana: berharap yang terbaik, menyiapkan kritik yang paling tajam, dan menulis ulang janji demi janji agar suatu hari tak ada lagi yang harus menunggu dalam diam.(red)





