AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang – Di sebuah kampung, di mana jalan masih berdebu dan suara azan menembus pepohonan, rakyat bersiap memilih Datok.
Kata orang kota, ini “demokrasi langsung.” Kata orang kampung, ini “pesta rakyat.” Tapi di antara dua istilah itu, terselip kenyataan yang tak selalu dirayakan: pesta ini sering tak punya makna selain siapa yang punya dana.
Di bale-bale warung kopi, orang membicarakan calon dengan bahasa yang sederhana seperti menimbang harga cabe dan beras.
“Yang itu bagus, tapi pelit.”
“Yang satu dermawan, tapi tak bisa baca peta pembangunan.”
“Yang penting bisa bantu nanti kalau hajatan.”
Dan begitu demokrasi disuling jadi transaksi sosial, nilai-nilai pun menguap seperti kopi panas yang ditiup terlalu lama.
Pemilihan langsung di atas kertas adalah kepercayaan pada rakyat. Tapi di lapangan, ia sering berubah jadi ujian: sejauh mana rakyat bisa menolak amplop yang datang menjelang malam.
Para calon mendatangi rumah demi rumah, membawa janji dalam bahasa yang manis, seperti gula yang larut dalam teh hangat manis sebentar, lalu habis tak berjejak.





