AtjehUpdate.com., Langsa – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi salah satu terobosan nasional kini mulai terseret aroma busuk dugaan “jual jalur” dalam proses penetapan dapur yang diarahkan menjadi SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Empat dapur MBG yang telah selesai dibangun di Kota Langsa hingga kini justru mangkrak dan tidak beroperasi, sementara rekanan pelaksana mengaku mengalami kerugian mencapai Rp6,4 miliar.
Program MBG yang diklaim mendukung pemenuhan gizi anak bangsa, terutama di lingkungan pesantren, justru diduga telah dijadikan komoditas dagang kepentingan segelintir orang yang mengaku punya akses dalam mempercepat atau memuluskan penetapan dapur sebagai titik SPPG. Tudingan ini mencuat setelah munculnya pengakuan adanya permintaan sejumlah uang untuk “mengurus proyek” agar bisa mendapatkan penunjukan dari pihak yang mengatasnamakan keterkaitan dengan program MBG.
Empat titik dapur MBG di Langsa masing-masing di PP Futuhul Mu’arif Al-Aziziyah, Yayasan Raudhatun Najah, PP Tahfidz Qur’an Yapila, dan PP Bustanul Malikussaleh telah selesai dibangun dan dinyatakan siap beroperasi. Namun, hingga hari ini, seluruhnya terbengkalai. Padahal, dapur-dapur tersebut semestinya sudah menjadi pusat layanan gizi bagi santri dan masyarakat.
Dari penelusuran lebih jauh, LSM Gadjah Puteh menemukan adanya dugaan praktik “pengurusan penetapan” titik dapur yang diduga melibatkan oknum tertentu yang menawarkan kemampuan meloloskan dapur menjadi SPPG. Polanya: rekanan diminta menyerahkan sejumlah uang sebagai “biaya pengurusan” agar proyek berjalan. Cara-cara seperti ini dinilai sangat merusak integritas program MBG.
Ketua LSM Gadjah Puteh menyebut kejadian ini sebagai bentuk penyelewengan moral dan pembusukan terhadap tujuan program negara.





