Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
OpiniTeori Pembelajaran

Perbedaan Pembelajaran Sosial Emosional dan Behaviorisme

52
×

Perbedaan Pembelajaran Sosial Emosional dan Behaviorisme

Sebarkan artikel ini
Behavioristic Theory of Learning - Prep With Harshita

Perbedaan pendekatan pembelajaran sosial emosional dengan teori behaviorisme – Perbedaan pendekatan pembelajaran sosial emosional (PSE) dengan teori behaviorisme menjadi perdebatan menarik dalam dunia pendidikan. Kedua pendekatan ini menawarkan cara pandang yang berbeda tentang bagaimana siswa belajar dan berkembang. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan mendasar antara pembelajaran sosial emosional dan teori behaviorisme, mulai dari tujuan, proses, peran guru dan siswa, hingga cara penilaiannya. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai perbandingan kedua teori pembelajaran tersebut.

Teori behaviorisme menekankan pada stimulus dan respon dalam proses belajar, sedangkan pembelajaran sosial emosional lebih luas, mencakup perkembangan emosi, sosial, dan kognitif siswa secara holistik. Perbedaan mendasar ini akan terlihat jelas dalam berbagai aspek pembelajaran, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, cara guru mengajar, peran siswa, hingga metode penilaian yang digunakan.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Pendahuluan

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan pendekatan pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa. Teori Behaviorisme, di sisi lain, menekankan pada pengkondisian perilaku melalui stimulus dan respon. Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada fokusnya. PSE lebih menekankan pada pengembangan internal siswa, sedangkan behaviorisme lebih pada perubahan perilaku eksternal.

Pengertian Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) adalah pendekatan pendidikan holistik yang membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk kesuksesan akademik, sosial, dan karir. PSE berfokus pada pengembangan kesadaran diri, pengaturan diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan pengambilan keputusan bertanggung jawab. PSE bertujuan untuk membantu siswa mengelola emosi, membangun hubungan yang positif, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pengertian Teori Behaviorisme

Teori Behaviorisme merupakan pendekatan psikologis yang menekankan pada perilaku yang dapat diamati dan diukur. Teori ini berfokus pada bagaimana stimulus eksternal dapat memengaruhi respons perilaku. Para penganut teori ini meyakini bahwa perilaku dapat dibentuk melalui pengkondisian klasik dan operan. Pengkondisian klasik melibatkan pembelajaran asosiatif antara stimulus dan respon, sementara pengkondisian operan melibatkan penguatan atau hukuman untuk membentuk perilaku tertentu.

Perbedaan PSE dan Teori Behaviorisme

  • Fokus: PSE berfokus pada pengembangan internal siswa (kesadaran diri, pengaturan diri, dll), sedangkan behaviorisme berfokus pada perubahan perilaku eksternal melalui stimulus dan respon.
  • Proses Belajar: PSE menekankan pada pemahaman dan penerapan emosi dan perilaku sosial, sedangkan behaviorisme menekankan pada pengkondisian dan penguatan perilaku.
  • Peran Guru: Dalam PSE, guru berperan sebagai fasilitator dan motivator untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, sedangkan dalam behaviorisme, guru berperan sebagai pengontrol dan penguat perilaku.
  • Evaluasi: PSE mengevaluasi kemajuan siswa berdasarkan pemahaman dan penerapan keterampilan sosial dan emosional, sedangkan behaviorisme mengevaluasi berdasarkan perubahan perilaku yang teramati.

Fokus pada Tujuan Pembelajaran

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tujuan pembelajaran merupakan landasan penting dalam setiap pendekatan. Baik pendekatan pembelajaran sosial emosional (PSE) maupun teori behaviorisme memiliki tujuan yang berbeda, mencerminkan fokus dan prinsip yang mendasarinya. Perbedaan ini memengaruhi cara guru merancang kegiatan belajar mengajar dan menilai keberhasilan siswa.

Tujuan Pembelajaran PSE

Tujuan pembelajaran PSE berfokus pada pengembangan kompetensi sosial-emosional siswa. Hal ini mencakup pemahaman diri, kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan keterampilan hubungan interpersonal. Contoh tujuan pembelajaran PSE meliputi:

  • Siswa dapat mengidentifikasi emosi mereka sendiri dan emosi orang lain.
  • Siswa dapat mengelola emosi mereka secara efektif, termasuk ketika menghadapi tantangan.
  • Siswa dapat membangun dan memelihara hubungan interpersonal yang sehat dan positif.
  • Siswa dapat mengambil perspektif orang lain dan menunjukkan empati.
  • Siswa dapat menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif.

Tujuan Pembelajaran Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme berfokus pada perilaku yang dapat diamati dan diukur. Tujuan pembelajaran dalam pendekatan ini menekankan pada pembentukan perilaku yang diinginkan melalui pengkondisian. Contoh tujuan pembelajaran behaviorisme meliputi:

  • Siswa dapat menghafal fakta-fakta tertentu.
  • Siswa dapat melakukan keterampilan tertentu dengan benar dan akurat.
  • Siswa dapat merespons stimulus tertentu dengan perilaku yang diinginkan.
  • Siswa dapat mengulangi perilaku yang diinginkan secara konsisten.
  • Siswa dapat menghindari perilaku yang tidak diinginkan.

Perbandingan Tujuan Pembelajaran

Tujuan PSE Tujuan Behaviorisme Perbedaan Utama
Mengembangkan kompetensi sosial-emosional siswa, meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan keterampilan hubungan interpersonal. Membentuk perilaku yang diinginkan melalui pengkondisian dan penguatan. PSE berfokus pada perkembangan internal siswa, sementara behaviorisme berfokus pada perubahan perilaku yang dapat diamati.
Contoh: Siswa dapat mengidentifikasi emosi mereka sendiri dan emosi orang lain. Contoh: Siswa dapat menghafal fakta-fakta tertentu. PSE lebih menekankan pada pemahaman dan pengelolaan emosi, sedangkan behaviorisme lebih menekankan pada tindakan dan respons.
Menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Menekankan pada pengulangan dan penguatan perilaku. PSE mendorong berpikir reflektif dan proses kognitif yang lebih kompleks, sementara behaviorisme berfokus pada respons yang sederhana.

Fokus pada Proses Pembelajaran: Perbedaan Pendekatan Pembelajaran Sosial Emosional Dengan Teori Behaviorisme

Perbedaan pendekatan pembelajaran sosial emosional (PSE) dan teori behaviorisme tak hanya terletak pada tujuan, tetapi juga pada proses pembelajaran yang diterapkan. PSE menekankan perkembangan emosi dan sosial siswa, sementara behaviorisme berfokus pada stimulus dan respon. Memahami proses pembelajaran masing-masing pendekatan sangat penting untuk memilih strategi yang tepat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Proses Pembelajaran dalam PSE

PSE menekankan pembelajaran yang holistik, melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses pembelajaran dalam PSE didesain untuk membangun kesadaran diri, regulasi diri, dan empati. Metode dan strategi yang umum digunakan meliputi:

  • Diskusi kelompok dan refleksi: Siswa berdiskusi dan merefleksikan pengalaman serta emosi mereka. Contohnya, melalui kegiatan berbagi cerita atau menganalisis situasi yang menantang.
  • Aktivitas pemecahan masalah: Siswa berlatih memecahkan masalah dengan mempertimbangkan perspektif orang lain. Contohnya, melalui simulasi konflik antar teman.
  • Pembelajaran berbasis pengalaman: Siswa terlibat langsung dalam kegiatan yang menantang mereka untuk mengelola emosi dan berinteraksi secara sosial. Contohnya, kegiatan bermain peran atau proyek kolaboratif.
  • Penggunaan alat bantu visual dan emosional: Gambar, cerita, dan media lain digunakan untuk membantu siswa memahami dan mengelola emosi. Contohnya, menggunakan buku cerita bergambar untuk mendiskusikan emosi yang kompleks.

Proses Pembelajaran dalam Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme berfokus pada pembentukan perilaku melalui pengkondisian. Proses pembelajaran berpusat pada stimulus dan respon, serta penguatan perilaku yang diinginkan. Metode dan strategi yang umum digunakan meliputi:

  • Penggunaan hadiah dan hukuman: Perilaku yang diinginkan diberi hadiah, sedangkan perilaku yang tidak diinginkan dihukum. Contohnya, memberikan pujian untuk siswa yang menyelesaikan tugas tepat waktu.
  • Pengkondisian klasik: Mengasosiasikan stimulus netral dengan stimulus yang memicu respon tertentu. Contohnya, menggunakan musik tertentu saat memulai pelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif.
  • Pengkondisian operan: Menggunakan penguatan positif atau negatif untuk membentuk perilaku. Contohnya, memberikan poin tambahan untuk siswa yang aktif dalam diskusi kelas.
  • Latihan dan pengulangan: Siswa berlatih dan mengulang materi sampai menguasai keterampilan atau pengetahuan yang diinginkan. Contohnya, melakukan latihan soal berulang kali.

Perbedaan Proses Pembelajaran

Proses PSE Proses Behaviorisme Perbedaan Utama
Berfokus pada perkembangan emosi, sosial, dan kognitif secara holistik. Berfokus pada pembentukan perilaku melalui stimulus dan respon. PSE menekankan perkembangan internal siswa, sementara behaviorisme lebih menekankan pada pengaruh eksternal.
Menekankan kesadaran diri, regulasi diri, dan empati. Menekankan penguatan perilaku melalui hadiah dan hukuman. PSE lebih menekankan pada pemahaman dan pengelolaan emosi, sedangkan behaviorisme lebih berfokus pada perilaku yang terlihat.
Memberikan ruang bagi eksplorasi dan pemahaman diri. Memberikan struktur dan aturan yang jelas. PSE mendorong pemikiran kritis dan reflektif, sementara behaviorisme lebih berorientasi pada kepatuhan dan pencapaian target.
Menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan dinamis. Menggunakan pendekatan yang lebih terstruktur dan terencana. PSE lebih menekankan pada proses, sedangkan behaviorisme lebih menekankan pada hasil.

Fokus pada Peran Guru dan Siswa

Perbedaan pendekatan pembelajaran sosial emosional dengan teori behaviorisme

Perbedaan pendekatan pembelajaran sosial emosional (PSE) dan teori behaviorisme juga terlihat jelas dalam peran guru dan siswa. PSE menekankan pentingnya pengembangan keterampilan sosial dan emosional, sementara behaviorisme berfokus pada pengkondisian dan pembentukan perilaku.

Peran Guru dalam Pembelajaran PSE

Guru dalam pembelajaran PSE berperan sebagai fasilitator, mentor, dan model bagi siswa. Mereka menciptakan lingkungan kelas yang aman dan mendukung, di mana siswa dapat belajar dan tumbuh secara emosional dan sosial. Guru juga perlu memahami dan merespon kebutuhan emosional masing-masing siswa. Contoh praktik baik guru dalam pembelajaran PSE meliputi:

  • Menggunakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, seperti diskusi kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah.
  • Membangun hubungan yang positif dan saling percaya dengan siswa, sehingga menciptakan kelas yang kondusif untuk belajar.
  • Mengajarkan keterampilan sosial dan emosional secara eksplisit, seperti manajemen diri, kesadaran diri, dan empati.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif dan mendukung kepada siswa, dengan fokus pada proses dan kemajuan.
  • Menciptakan ruang kelas yang kolaboratif dan menghormati perbedaan.

Peran Guru dalam Pembelajaran Behaviorisme

Dalam pembelajaran behaviorisme, guru berperan sebagai pengajar dan pengatur perilaku. Guru mengidentifikasi perilaku yang diinginkan dan menerapkan metode pengkondisian untuk membentuk perilaku tersebut. Contoh praktik baik guru dalam pembelajaran behaviorisme meliputi:

  • Menyusun materi pelajaran dengan sistematis dan terstruktur, dengan tujuan dan hasil yang terukur.
  • Memberikan penghargaan dan hukuman yang konsisten untuk menguatkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan.
  • Menggunakan metode pembelajaran yang terstruktur, seperti pengajaran langsung, latihan berulang, dan pemberian umpan balik langsung.
  • Menggunakan alat bantu visual dan media yang dapat membantu dalam proses belajar.
  • Menyediakan tugas dan latihan yang terukur untuk mengukur kemampuan siswa.

Peran Siswa dalam Pembelajaran PSE

Siswa dalam pembelajaran PSE dilibatkan secara aktif dalam pengembangan keterampilan sosial dan emosional mereka. Mereka belajar untuk mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan memecahkan masalah. Contoh kegiatan siswa dalam pembelajaran PSE meliputi:

  • Berpartisipasi dalam diskusi kelas dan kegiatan kelompok untuk berlatih keterampilan sosial.
  • Melakukan refleksi diri untuk memahami emosi dan perilaku mereka.
  • Berlatih keterampilan komunikasi dan resolusi konflik.
  • Membangun hubungan positif dengan teman sebaya dan guru.
  • Menunjukkan empati dan kepedulian terhadap orang lain.

Peran Siswa dalam Pembelajaran Behaviorisme

Dalam pembelajaran behaviorisme, siswa berperan sebagai penerima informasi dan pelaku latihan. Mereka diharapkan untuk merespon stimulus dan menunjukkan perilaku yang telah ditentukan. Contoh kegiatan siswa dalam pembelajaran behaviorisme meliputi:

  • Mengikuti instruksi dan petunjuk yang diberikan oleh guru.
  • Melakukan latihan dan repetisi untuk menguasai materi.
  • Menjawab pertanyaan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
  • Menunjukkan perilaku yang telah dipelajari dalam berbagai situasi.
  • Menghindari perilaku yang tidak diinginkan dengan cara menghindari konsekuensi negatif.

Perbandingan Peran Guru dan Siswa

Berikut tabel yang membandingkan peran guru dan siswa dalam kedua pendekatan pembelajaran tersebut:

Aspek Pembelajaran PSE Pembelajaran Behaviorisme
Peran Guru Fasilitator, mentor, model; menciptakan lingkungan belajar yang mendukung Pengajar, pengatur perilaku; mengidentifikasi dan membentuk perilaku
Peran Siswa Aktif dalam pengembangan keterampilan sosial dan emosional; bertanggung jawab atas perkembangan diri Penerima informasi, pelaku latihan; merespon stimulus dan menunjukkan perilaku yang telah ditentukan
Tujuan Pembelajaran Pengembangan keterampilan sosial dan emosional Pembentukan perilaku yang diinginkan

Fokus pada Penilaian Pembelajaran

Penilaian pembelajaran merupakan elemen krusial dalam setiap pendekatan. Baik dalam pembelajaran sosial emosional (PSE) maupun teori behaviorisme, cara menilai hasil belajar berbeda. Perbedaan ini mencerminkan filosofi dan tujuan yang mendasarinya.

Pengukuran Hasil Pembelajaran dalam PSE

Dalam pendekatan pembelajaran sosial emosional (PSE), penilaian tidak hanya berfokus pada penguasaan materi akademik, tetapi juga pada perkembangan sosial-emosional siswa. Pengukuran hasil belajar mencakup berbagai aspek, seperti kemampuan siswa untuk mengelola emosi, membangun hubungan interpersonal yang sehat, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Instrumen penilaiannya pun beragam dan komprehensif.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses