Serangan fajar, meskipun terlihat sebagai upaya “kecil” untuk meraih suara, sebenarnya menjadi bagian dari masalah yang lebih besar. Ini mencerminkan bagaimana praktik politik uang menjadi alat untuk mempertahankan status quo yang korup dan mencederai prinsip keadilan. Rocky Gerung bahkan menyebut bahwa fenomena ini menunjukkan lemahnya kesadaran politik masyarakat sekaligus memperlihatkan betapa rentannya demokrasi kita terhadap manipulasi kekuasaan.
Serangan fajar tidak hanya merugikan masyarakat yang menerima, tetapi juga menghancurkan nilai-nilai demokrasi yang seharusnya mengutamakan rekam jejak, kapasitas, dan integritas para pemimpin. Demokrasi yang diwarnai oleh praktik politik uang tidak hanya menghasilkan pemimpin yang tidak berkualitas, tetapi juga membuka jalan bagi penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan rusaknya tata kelola pemerintahan.
LSM Gadjah Puteh menekankan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan proses demokrasi berlangsung secara jujur dan adil. Dengan menolak segala bentuk politik uang, masyarakat turut menjaga masa depan bangsa dari pemimpin-pemimpin yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok.
Pilkada dan pemilu bukan sekadar ajang memilih pemimpin, tetapi juga refleksi dari nilai-nilai demokrasi yang kita junjung tinggi. Mari bersama-sama menjaga integritas proses demokrasi dengan menolak serangan fajar dan memilih berdasarkan hati nurani, rekam jejak, serta visi calon pemimpin. Ini adalah momentum penting untuk memastikan demokrasi Indonesia tetap menjadi alat yang efektif dalam memilih pemimpin yang benar-benar peduli terhadap rakyatnya.
(Penulis adalah Aktivis, Pengamat Sosial, dan Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh)





