Gadjah Puteh menilai momentum pengungkapan beruntun oleh Bareskrim harus dijadikan pintu masuk untuk membersihkan praktik mafia impor secara menyeluruh. Jika tidak, maka kasus serupa hanya akan terus berulang dengan pola yang sama barang berbeda, lokasi berbeda, tetapi jaringan yang tetap.
Lebih jauh, Gadjah Puteh secara tegas meminta Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk tidak tinggal diam atas kondisi ini. Menurut Said Zahirsyah, pengungkapan berulang oleh aparat penegak hukum justru menimbulkan pertanyaan serius terhadap efektivitas internal pengawasan di tubuh Bea Cukai.
“Dirjen Bea Cukai harus ambil sikap. Publik perlu jawaban tegas: apakah selama ini ada kendala koordinasi dengan jajaran di bawah? Atau justru ada fakta yang lebih mengkhawatirkan, bahwa pengawasan di lapangan tidak berjalan sebagaimana mestinya?” ujarnya.
Gadjah Puteh juga menyoroti informasi bahwa Bea Cukai telah membentuk satuan tugas khusus penanganan penyelundupan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan pengungkapan justru berulang kali lebih dahulu dilakukan oleh aparat lain.
“Kalau memang sudah ada satgas khusus di internal, lalu kenapa justru Bareskrim yang terus lebih dulu membongkar? Ini harus dijelaskan. Apakah satgas tidak bekerja, atau ada informasi yang tidak sampai ke pimpinan?” lanjutnya.
Dalam nada yang lebih keras, Gadjah Puteh mempertanyakan kemungkinan adanya persoalan loyalitas di internal.
“Jangan sampai publik melihat ada oknum yang lebih patuh pada jejaring tertentu dibandingkan pada pimpinan institusi. Kalau itu terjadi, ini bukan lagi sekadar kelalaian, tapi indikasi persoalan serius di dalam,” tegas Said.
Gadjah Puteh menutup dengan menegaskan bahwa pemberantasan impor ilegal tidak cukup hanya dengan operasi penindakan di hilir. Yang dibutuhkan adalah keberanian membongkar jaringan, membersihkan internal, dan memastikan bahwa seluruh aparat benar-benar bekerja untuk negara, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.(red)





