Mereka menyebut adanya risiko pola posisi berputar seperti gasing, orangnya itu itu saja, berganti kursi tetapi peran dan jejaringnya tetap, sehingga arah reformasi rawan dilawan dari dalam, atau bahkan terintervensi dari luar unit kerja meski masih dalam rumpun kementerian yang sama.
Karena itu, Gadjah Puteh meminta Purbaya Yudhi Sadewa agar tidak setengah hati dalam menata pejabat pimpinan tinggi pratama dan struktur strategis di Bea Cukai.
Pada 28 Januari 2026, Purbaya diberitakan melakukan perombakan pejabat eselon II di Kemenkeu, sejumlah laporan menyebut perombakan menyasar 36 pejabat, dengan porsi terbesar berasal dari lingkungan Bea Cukai, sementara kanal resmi Kemenkeu juga mengumumkan pelantikan pejabat tinggi pratama pada tanggal tersebut.
Menurut Gadjah Puteh, dibutuhkan setidaknya dua tahun agar pola rezim lama yang telah lama menduduki jabatan bisa benar benar tersetel, termasuk jejaring lama, pola titipan, dan pengaruh eksternal yang diduga masih bergerak dalam satu kementerian yang sama. Mereka menilai Purbaya jangan hanya melakukan rotasi seperti gasing, melainkan menghadirkan wajah baru, bukan mempertahankan kerajaan yang sudah terbangun.
Gadjah Puteh juga menekankan bahwa karena Dirjen Bea Cukai adalah pilihan Presiden secara langsung, maka harus diberi ruang agar tim tempurnya benar benar solid, bukan orang lama yang secara formal masih terlihat mendukung tetapi pada praktiknya lebih berpihak pada kepentingan lain.
Dalam pandangan Gadjah Puteh, sumber penguatan tidak harus selalu dari pejabat lama. Mereka mendorong agar figur figur dari bawah yang berintegritas dan kompeten diberi ruang naik kelas, serta tidak menutup kemungkinan menghadirkan talenta eksternal yang cakap bila itu mempercepat perbaikan tata kelola dan mempertegas arah reformasi.
Bagi Gadjah Puteh, rekam jejak 8 bulan kepemimpinan Djaka dengan indikator penindakan besar, penguatan sinergi, akselerasi sistem, dan penegakan disiplin internal adalah modal yang layak dipertahankan, tetapi hasil akhirnya sangat ditentukan oleh apakah Dirjen dikelilingi orang orang yang benar benar mendukung agenda bersih bersih, bukan justru mengunci perubahan.
Gadjah Puteh juga menyampaikan kegelisahan sosial ekonomi yang lebih luas. Mereka menilai masyarakat sudah terlalu lama merasakan perlambatan ekonomi, banyak sektor terhambat, dan lapisan bawah berada dalam kondisi morat marit, sementara di sisi lain kelompok elite oligarkis semakin kaya raya.
Dalam konteks itu, Gadjah Puteh meminta kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberi kesempatan terlebih dahulu kepada Menkeu Purbaya selama dua tahun untuk benar benar menghadirkan efek perubahan yang nyata. Mereka meyakini, jika Purbaya kembali diganti dan yang muncul lagi hanya orang baru tanpa waktu kerja yang cukup, atau orang lama yang itu itu saja, maka target besar Indonesia Emas berpotensi hanya menjadi slogan yang tidak pernah tercapai.
Pada akhirnya, Gadjah Puteh menegaskan: publik menunggu pembuktian yang konsisten, bukan sekadar rilis kinerja tahunan, melainkan perubahan yang terasa di pelabuhan, di perbatasan, di jalur laut rawan penyelundupan, dan di integritas internal.
Dan jika Dirjen mulai mengeluhkan barisan bawahannya, mereka mendesak Menkeu untuk segera bertindak agar reformasi Bea Cukai tidak berhenti di panggung seremonial, tetapi benar benar menutup ruang kompromi yang selama ini memelihara praktik lama.(red)





