AtjehUpdate.com., Jakarta — Menguat dan melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak pernah dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Di tengah kurs dolar yang sempat menembus level psikologis Rp18.000, muncul pula isu politik-ekonomi yang tidak kalah menarik perhatian publik, yakni kabar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan mengundurkan diri dari jabatannya.
Isu tersebut kemudian dibantah langsung oleh Purbaya. Saat dikonfirmasi, ia menyebut kabar tersebut tidak benar. Di sisi lain, beredar pula isu reshuffle kabinet yang turut menambah sensitivitas pasar dan ruang spekulasi publik.
Pertanyaannya, mengapa isu mundurnya Menteri Keuangan muncul justru ketika Kementerian Keuangan sedang berada dalam fase perbaikan besar-besaran dan ketika rupiah menjadi perhatian nasional?
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak bisa semata-mata ditarik pada satu kesimpulan sederhana. Ada faktor global, faktor domestik, faktor psikologis pasar, hingga faktor kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Dari sisi global, dolar AS menguat karena posisinya sebagai mata uang safe haven. Ketika dunia diliputi ketegangan geopolitik, perang, krisis energi, atau ketidakpastian suku bunga The Fed, investor cenderung mencari perlindungan ke dolar. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Namun faktor domestik juga tidak boleh diabaikan. Pasar sangat sensitif terhadap defisit fiskal, arah belanja negara, kredibilitas kebijakan moneter, independensi Bank Indonesia, serta stabilitas politik. Dalam situasi seperti ini, rumor saja dapat menjadi pemicu tambahan bagi tekanan pasar. Artinya, ketika dolar menembus Rp18.000, penyebabnya bukan hanya soal kuatnya dolar, tetapi juga soal bagaimana pasar membaca kekuatan ekonomi Indonesia dari dalam.
Pertanyaan yang berkembang kemudian adalah: benarkah ketika dolar menguat dan rupiah melemah, salah satu pemicunya adalah figur Menteri Keuangan? Jawabannya perlu diletakkan secara proporsional. Kurs tidak mungkin bergerak hanya karena satu orang. Namun dalam ekonomi modern, figur Menteri Keuangan tetap memiliki pengaruh besar terhadap persepsi pasar.
Seorang Menteri Keuangan bukan hanya mengelola APBN. Ia juga menjadi simbol disiplin fiskal, kredibilitas negara, arah reformasi ekonomi, dan kepercayaan investor. Ketika seorang Menkeu memberi sinyal tegas, terbuka, dan berani, pasar dapat membacanya sebagai tanda bahwa pemerintah memahami risiko yang sedang dihadapi.
Karena itu, pernyataan-pernyataan Purbaya yang terkesan blak-blakan, bahkan kadang dianggap nyeleneh, tidak bisa serta-merta dipandang sebagai kegaduhan. Dalam kondisi tertentu, gaya komunikasi semacam itu justru dapat menjadi sinyal bahwa ada alarm ekonomi yang sedang dibunyikan dari dalam pemerintahan.
Munculnya isu Purbaya mundur di tengah tekanan rupiah dan perbaikan besar-besaran Kementerian Keuangan patut dicermati secara serius. Bukan untuk mempercayai rumor, melainkan untuk memahami mengapa rumor itu bisa muncul dan menyebar. Dalam situasi pasar yang sensitif, isu mundurnya Menteri Keuangan dapat menimbulkan persepsi bahwa ada ketidakharmonisan dalam tubuh pemerintahan. Walaupun kabar tersebut telah dibantah, dampak psikologisnya tetap perlu dihitung.
Pasar tidak hanya bergerak berdasarkan data. Pasar juga bergerak berdasarkan persepsi. Bahkan dalam banyak krisis, persepsi sering lebih cepat bergerak daripada fakta. Itulah sebabnya pemerintah perlu menjaga soliditas komunikasi ekonomi. Jangan sampai di satu sisi pemerintah ingin menunjukkan ekonomi kuat, tetapi di sisi lain muncul rumor politik yang justru menciptakan ketidakpastian baru.
Dalam sejarah Indonesia, pelemahan rupiah pada krisis 1998 tidak hanya disebabkan oleh ekonomi, tetapi juga oleh krisis kepercayaan politik. Ketika transisi pemerintahan terjadi dan Presiden B.J. Habibie mulai memulihkan kepercayaan pasar melalui reformasi politik, pembenahan perbankan, dan penguatan tata kelola ekonomi, rupiah perlahan kembali membaik.
Artinya, mata uang tidak hanya membutuhkan cadangan devisa. Mata uang juga membutuhkan kepercayaan. Sementara dalam kasus Rusia saat perang Ukraina, rubel sempat tertekan berat, tetapi kemudian menguat setelah pemerintah Rusia menerapkan kontrol modal, menaikkan suku bunga, mewajibkan konversi pendapatan ekspor ke rubel, dan mendorong pembayaran energi menggunakan mata uang Rusia.
Dua kasus tersebut memberi pelajaran berbeda. Habibie menguatkan rupiah melalui pemulihan kepercayaan. Rusia menguatkan rubel melalui kontrol negara dan penciptaan permintaan terhadap mata uangnya sendiri. Indonesia tentu tidak bisa meniru Rusia secara mentah-mentah. Namun Indonesia dapat mengambil pelajaran bahwa mata uang nasional tidak boleh terus-menerus menjadi penonton dalam sistem perdagangan global yang sangat bergantung pada dolar.
Isu printing money juga perlu dijelaskan dengan jernih. Penambahan jumlah uang beredar memang dapat melemahkan mata uang apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produksi barang dan jasa. Jika uang beredar terlalu banyak, inflasi naik, kepercayaan turun, dan masyarakat atau investor beralih ke dolar.

