Namun dalam konteks dolar menembus Rp18.000, printing money bukan satu-satunya penyebab. Faktor yang lebih besar adalah kombinasi antara penguatan dolar global, arus modal keluar, harga energi, kebijakan The Fed, persepsi terhadap fiskal Indonesia, serta kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Dengan kata lain, pelemahan rupiah adalah hasil dari tekanan sistemis dan tekanan psikologis. Ada yang berasal dari luar negeri, ada yang berasal dari dalam negeri, dan ada pula yang muncul karena kegagalan mengelola persepsi publik.
Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh Darussalam, Said Zahirsyah Almahdaly, menilai Presiden Prabowo Subianto perlu lebih teliti membaca seluruh faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah, baik faktor besar maupun faktor kecil yang sering dianggap tidak penting.
Menurutnya, pengalaman krisis 1998 memberi pelajaran bahwa tekanan terhadap mata uang tidak selalu berdiri sendiri. Ada faktor politik, kepanikan pasar, arus modal, hingga kabar-kabar yang berkembang di ruang publik.
“Dulu pernah berkembang berbagai kabar angin saat krisis 1998, termasuk isu dolar yang diselundupkan keluar negeri. Benar atau tidaknya tentu harus diuji oleh negara. Tetapi pelajaran pentingnya adalah Presiden tidak boleh mengabaikan hal kecil hanya karena ada isu besar yang terlihat lebih dominan. Kadang hal kecil yang dianggap tidak penting justru memiliki dampak signifikan terhadap kepercayaan publik dan pasar,” ujar Said.
Said juga meminta Presiden agar tetap terbuka terhadap seluruh masukan Menteri Keuangan, termasuk masukan yang mungkin terdengar tidak populer atau terkesan nyeleneh.
“Purbaya mungkin sering dianggap blak-blakan, bahkan nyeleneh. Tetapi dalam situasi ekonomi seperti ini, suara-suara yang jujur dari dalam pemerintahan justru penting didengar. Jangan sampai orang yang memberi peringatan dianggap mengganggu, sementara masalah yang sesungguhnya justru dibiarkan membesar,” tegasnya.
Menurut Gadjah Puteh, isu mundurnya Purbaya harus dibaca bukan sekadar sebagai rumor politik, tetapi sebagai alarm bahwa komunikasi ekonomi pemerintah harus lebih solid.
“Kalau memang tidak benar, pemerintah harus menutup ruang spekulasi dengan komunikasi yang tegas. Sebab dalam ekonomi, rumor bisa menjadi tekanan. Pasar tidak hanya membaca angka, tetapi juga membaca gestur, soliditas, dan arah kebijakan,” tambah Said.
Pelemahan rupiah dan isu Purbaya mundur menunjukkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Kurs rupiah bukan hanya urusan angka, tetapi juga urusan kepercayaan, komunikasi, stabilitas politik, dan keberanian pemerintah membaca persoalan dari akar.
Rupiah tidak hanya sedang berhadapan dengan dolar Amerika. Rupiah juga sedang diuji oleh kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengatakan ekonomi kuat. Pemerintah juga harus memastikan bahwa seluruh kebijakan, komunikasi, dan figur-figur kunci ekonomi negara berada dalam satu barisan yang solid.
Jika Purbaya benar sedang membawa agenda perbaikan besar-besaran di Kementerian Keuangan, maka Presiden perlu memastikan agenda itu tidak diganggu oleh rumor, kepentingan politik, atau tekanan kelompok tertentu.
Sebab dalam situasi rupiah tertekan, yang dibutuhkan bukan hanya bantahan terhadap isu. Yang dibutuhkan adalah kepastian arah, keberanian mengambil keputusan, dan kepercayaan publik bahwa negara benar-benar sedang bekerja menjaga nilai mata uangnya.(red)

