AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang | 2 Desember 2025 – Air memang mulai berangsur surut, tetapi derita warga justru semakin dalam. Sampai detik ini, posko pengungsian dan dapur umum tak kunjung hadir, membuat ribuan warga hidup seolah ditinggalkan negara. Mereka bertahan tanpa makanan layak, tanpa air bersih, tanpa pakaian kering, dan tanpa layanan medis. Sembako belum terdistribusi merata, air minum semakin sulit, dan kondisi kesehatan warga mulai memburuk.
LSM Gadjah Puteh menyampaikan kritik keras terhadap respon pemerintah yang dianggap sangat lambat dan tidak terorganisir.
“Aceh Tamiang sedang berada pada titik paling mencekam. Pemerintah hilang. Warga menghadapi risiko mati perlahan karena kelaparan dan penyakit. Sampai kapan keadaan seperti ini dibiarkan?” ujar Said Zahirsyah, Direktur Eksekutif Gadjah Puteh.
“Kami mendesak Kepala BNPB untuk turun langsung dan tinggal di tenda pengungsian di Aceh Tamiang. Rasakan panasnya terik, rasakan lapar, rasakan abu yang masuk ke paru-paru, dan rasakan ketakutan seperti zombi yang dialami rakyat kami di sini.”
Di berbagai titik terdampak, lumpur masih menutup pemukiman. Banyak rumah warga terseret arus dan berhenti di tengah jalan, bercampur dengan lemari, kursi, dan benda-benda yang sebelumnya menjadi bagian hidup mereka. Pohon-pohon tumbang menutup akses utama desa dan membuat distribusi bantuan semakin sulit.
Banyak ruas jalan pecah, patah, dan terkelupas, membuat kendaraan harus melaju dengan risiko tinggi jika tetap memaksa melintasi. Meskipun bisa lewat, jalur ini layaknya medan runtuh yang setiap saat dapat mencelakakan.





