Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Bencana Alam

Aceh Tamiang Darurat Krisis: Pemerintah Hilang, Warga Terancam Mati Kelaparan & Penyakit, Gadjah Puteh Tantang Kepala BNPB Tinggal di Tempat Pengungsi Aceh Tamiang

27
×

Aceh Tamiang Darurat Krisis: Pemerintah Hilang, Warga Terancam Mati Kelaparan & Penyakit, Gadjah Puteh Tantang Kepala BNPB Tinggal di Tempat Pengungsi Aceh Tamiang

Sebarkan artikel ini
Warga Aceh Tamiang berjalan di tengah lumpur tebal, rumah-rumah rusak terseret arus ke badan jalan, dan tidak ada bantuan logistik yang terlihat di lokasi. (Opsional tambahan jika ada gambar lain) • Pengungsi berteduh di pinggir jalan tanpa tenda, menanti bantuan makanan dan air bersih. • Relawan lokal mendistribusikan bantuan seadanya di tengah jalan yang terputus.
Aceh Tamiang masih krisis! Air berangsur surut, tapi dapur umum belum ada, air bersih tak terlihat, warga menahan lapar dan ancaman penyakit. Gadjah Puteh mendesak negara hadir bukan hanya hadir di konferensi pers. #SaveAcehTamiang #DaruratKemanusiaan

AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang | 2 Desember 2025 – Air memang mulai berangsur surut, tetapi derita warga justru semakin dalam. Sampai detik ini, posko pengungsian dan dapur umum tak kunjung hadir, membuat ribuan warga hidup seolah ditinggalkan negara. Mereka bertahan tanpa makanan layak, tanpa air bersih, tanpa pakaian kering, dan tanpa layanan medis. Sembako belum terdistribusi merata, air minum semakin sulit, dan kondisi kesehatan warga mulai memburuk.

LSM Gadjah Puteh menyampaikan kritik keras terhadap respon pemerintah yang dianggap sangat lambat dan tidak terorganisir.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

“Aceh Tamiang sedang berada pada titik paling mencekam. Pemerintah hilang. Warga menghadapi risiko mati perlahan karena kelaparan dan penyakit. Sampai kapan keadaan seperti ini dibiarkan?” ujar Said Zahirsyah, Direktur Eksekutif Gadjah Puteh.

“Kami mendesak Kepala BNPB untuk turun langsung dan tinggal di tenda pengungsian di Aceh Tamiang. Rasakan panasnya terik, rasakan lapar, rasakan abu yang masuk ke paru-paru, dan rasakan ketakutan seperti zombi yang dialami rakyat kami di sini.”

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Di berbagai titik terdampak, lumpur masih menutup pemukiman. Banyak rumah warga terseret arus dan berhenti di tengah jalan, bercampur dengan lemari, kursi, dan benda-benda yang sebelumnya menjadi bagian hidup mereka. Pohon-pohon tumbang menutup akses utama desa dan membuat distribusi bantuan semakin sulit.

Banyak ruas jalan pecah, patah, dan terkelupas, membuat kendaraan harus melaju dengan risiko tinggi jika tetap memaksa melintasi. Meskipun bisa lewat, jalur ini layaknya medan runtuh yang setiap saat dapat mencelakakan.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses