Cuaca panas ekstrem setelah hujan besar menciptakan teror baru: abu, debu, dan udara kering membuat warga mengalami gangguan pernapasan, terutama anak-anak dan lansia. Panas seperti membakar kulit, sementara warga tidak punya pakaian kering untuk melindungi diri.

Warga sekarang mengandalkan bantuan seadanya dari relawan lokal dan tetangga yang masih mampu berbagi. Namun jumlahnya sangat tidak mencukupi. Banyak balita mulai kekurangan cairan dan gizi, ibu hamil semakin rentan karena tidak ada layanan kesehatan memadai.
“Bencana sudah berhari-hari. Apa sulitnya membuka satu saja dapur umum? Apa sulitnya menyalurkan air bersih dan obat-obatan? Kami tidak butuh kunjungan seremonial yang hanya untuk kamera. Kami butuh tindakan,” tegas Gadjah Puteh.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, Aceh Tamiang bisa memasuki krisis kesehatan terbesar dalam sejarah. Jangan tunggu sampai satu per satu warga tumbang baru bergerak.”
Gadjah Puteh menilai bahwa kegagalan ini bukan sekadar teknis, melainkan kegagalan kepemimpinan dan kemanusiaan.
“Jika negara tidak mampu melindungi warganya di masa krisis, lalu apa fungsi negara? Jangan jadikan rakyat kami sebagai korban berikutnya dari kelalaian birokrasi,” tutup Said.





