Berbeda dengan batubara, ekspor kopi dan rempah-rempah justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Nilainya meningkat sekitar 50,88 persen dibanding April 2026 dan melonjak sekitar 64,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa komoditas pertanian Aceh masih memiliki daya saing yang kuat di pasar ekspor apabila didukung produksi yang stabil serta akses pasar yang lebih luas.
Selain batubara dan kopi, komoditas ekspor Aceh lainnya memiliki kontribusi yang relatif kecil. Bahan anyaman nabati dan produk nabati lainnya tercatat bernilai sekitar US$1,06 juta, diikuti daging dan ikan olahan sekitar US$1 juta. Sementara berbagai produk kimia, buah-buahan, minyak atsiri, ikan dan udang, serta komoditas lainnya masing-masing masih berada di bawah satu juta dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi komoditas ekspor Aceh masih belum merata dan masih bertumpu pada sedikit jenis komoditas utama.
Dilihat dari lapangan usaha, sektor pertambangan masih mendominasi ekspor Aceh dengan kontribusi sekitar 69,54 persen. Sektor pertanian berada di posisi kedua dengan kontribusi sekitar 28,02 persen, sedangkan industri pengolahan hanya menyumbang sekitar 2,45 persen terhadap total ekspor daerah. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa nilai tambah hasil industri di Aceh masih relatif rendah dibandingkan ekspor komoditas primer.
Besarnya ketergantungan terhadap batubara dan kopi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Aceh. Ketika harga batubara dunia melemah atau permintaan pasar menurun, nilai ekspor daerah berpotensi ikut tertekan. Sebaliknya, meningkatnya permintaan kopi Aceh di pasar internasional dapat menjadi momentum untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan agar ekspor Aceh tidak lagi hanya bergantung pada komoditas mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah yang lebih tinggi.(red)





