Di satu sisi, ajang seperti Cup Race adalah panggung sportivitas dan kebanggaan daerah. Tapi di sisi lain, ia juga menjadi ruang sosial tempat rakyat kecil ikut bersuara lewat aroma gorengan dan rasa kopi. Di situ, ekonomi tidak hadir dalam bentuk grafik, melainkan dalam bentuk tatapan lega seorang ibu penjual es yang habis dagangan sebelum sore.
Mungkin inilah yang disebut oleh seorang ekonom klasik sebagai “the invisible hand” tangan tak terlihat yang mengatur keseimbangan ekonomi. Tapi di Aceh Ramoang, tangan itu bukan tak terlihat. Ia nyata: tangan kasar seorang pedagang yang menuang kopi, tangan bocah yang membawa kembalian, tangan pembalap yang menyalami penonton setelah finis. Semua bergerak dalam satu putaran ekonomi kecil yang saling menghidupi.
Kita sering berbicara tentang pembangunan ekonomi dari atas, tapi lupa bahwa yang menahan pondasi justru mereka yang berdiri di bawah tenda biru, di bawah terik matahari, di pinggir lintasan. Dari sudut pandang mereka, lomba bukan hanya soal kecepatan tapi juga tentang ketahanan hidup.
Mungkin itulah makna paling jujur dari sebuah ajang seperti Cup Race: bukan hanya adu cepat di lintasan, tapi juga adu sabar di lapak-lapak kecil yang menjaga denyut ekonomi rakyat tetap hidup, satu kopi, satu gorengan, satu senyum dalam setiap putaran.
Oleh; Juliansyah
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Tamiang th 2000- 2003.





