AtjehUpdate.com,- Langsa | Harga emas murni kadar 99 persen di Kota Langsa dalam beberapa pekan terakhir mengalami lonjakan yang dinilai tidak wajar dan membingungkan masyarakat. Kenaikan harga yang terjadi hampir setiap hari ini tidak hanya mengikuti tren emas dunia, tetapi terindikasi kuat dipengaruhi oleh penetapan harga sepihak oleh kelompok pedagang tertentu.
Sejumlah warga mengeluhkan bahwa harga emas di beberapa toko yang selama ini menjadi rujukan utama masyarakat terlihat naik secara “suka-suka” dan dipublish secara luas di sosial media, namun tidak sebaliknya, jika harga emas turun mereka bungkam tanpa transparansi acuan yang jelas.
Kondisi ini membuat masyarakat awam tidak memiliki pembanding, sehingga terpaksa mengikuti harga yang dipatok.
Ironisnya, ketika harga kebutuhan pokok seperti telur ayam naik Rp5.000 per papan saja memicu protes luas, lonjakan harga emas hingga jutaan rupiah justru seakan luput dari perhatian. Padahal, emas selama ini menjadi instrumen simpanan utama masyarakat Aceh, terutama dalam kondisi sulit pasca bencana seperti sekarang. Belum lagi penjual dikenakan pemotongan biaya ongkos tempah hingga 250 ribu per mayam nya.
Situasi ini diperparah dengan dugaan adanya praktik monopoli oleh kelompok atau korporasi tertentu di Langsa yang selama ini mendominasi pasar emas. Dugaan tersebut mencuat karena pedagang emas di luar kelompok ini mengaku kesulitan bersaing, meski mereka menawarkan harga yang lebih wajar dan lebih mendekati pergerakan harga emas global. Akibatnya, pendapatan mereka merosot karena masyarakat telah terlanjur mengacu pada harga dari toko-toko tertentu.





