Sayed Zahirsyah menilai banjir kali ini merupakan bencana multidimensi karena bukan hanya merendam rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menghentikan seluruh aktivitas ekonomi rakyat seperti pertanian, peternakan, dan usaha kecil. Ribuan kapal motor nelayan tidak dapat melaut, ternak hanyut, dan stok kebutuhan dasar rusak total.
“Kami menyerukan agar BNPB, Basarnas, TNI–Polri, Kemenkes, dan Kementerian Sosial segera mengerahkan dukungan penuh seperti helikopter evakuasi, dapur umum besar skala nasional, logistik darurat, dan alat berat di titik-titik terisolasi. Jangan tunggu korban jiwa berjatuhan baru pusat bergerak,” lanjutnya.
Sejumlah video dan laporan warga memperlihatkan bangunan amblas ke sungai, tiang listrik tumbang, serta arus deras menutup jalan nasional. Banyak anak-anak dan lansia diturunkan dari rumah panggung menggunakan perahu darurat buatan warga. Situasi ini semakin memburuk karena curah hujan ekstrem masih berlanjut dan prakiraan BMKG belum menunjukkan tanda perbaikan.
Dengan kondisi Aceh yang hampir terputus dari segala akses vital, seruan Gadjah Puteh menjadi alarm keras bahwa bencana ini tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa daerah. Aceh membutuhkan perhatian nasional sepenuhnya, cepat dan nyata sebelum keadaan berubah menjadi lebih buruk lagi.(red)





