Sementara itu, Jepang menempati posisi kelima dengan nilai ekspor sekitar US$4,40 juta. Produk yang dikirim ke negara tersebut terutama berupa ikan tuna, termasuk tuna sirip kuning atau yellowfin tuna, serta berbagai hasil laut lainnya. Nilai pengiriman ke Jepang juga mengalami peningkatan tajam dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, ekspor ke India, Amerika Serikat, Tiongkok, Vietnam, dan Jepang mencapai sekitar US$47,30 juta, atau hampir 90 persen dari seluruh nilai ekspor Aceh pada Mei 2026. Sisanya tersebar ke sejumlah negara lain, antara lain Thailand, Kanada, Belgia, Malaysia, Singapura, dan pasar tujuan lainnya.
Besarnya porsi lima negara tersebut memperlihatkan bahwa pasar ekspor Aceh masih terkonsentrasi pada sejumlah mitra dagang utama. India menjadi pasar penting bagi komoditas batu bara, Amerika Serikat menjadi tujuan utama kopi dan rempah-rempah, Tiongkok dan Vietnam menjadi pasar besar bagi hasil pertambangan Aceh, sedangkan Jepang menjadi salah satu tujuan penting bagi produk perikanan dan hasil laut.
Dari sisi komoditas, ekspor Aceh masih sangat bertumpu pada batu bara serta kopi dan rempah-rempah. Batu bara menghasilkan sekitar US$36,68 juta, sementara kopi dan rempah-rempah menyumbang sekitar US$13,65 juta. Jika digabungkan, kedua kelompok komoditas tersebut menyumbang lebih dari 95 persen nilai ekspor Aceh selama Mei 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan perdagangan luar negeri Aceh bukan hanya memperluas negara tujuan ekspor, tetapi juga memperbanyak jenis produk bernilai tambah. Potensi kopi, perikanan, hasil laut, produk pertanian, serta industri pengolahan perlu terus diperkuat agar ekspor Aceh tidak terlalu bergantung pada batu bara dan beberapa negara pembeli utama.(red)





