Tutup Disini
ⓘ Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Bencana Alam

Kebakaran Hutan Kalimantan Belum Juga Usai, LSM Gadjah Puteh Prihatin dan Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

1
×

Kebakaran Hutan Kalimantan Belum Juga Usai, LSM Gadjah Puteh Prihatin dan Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Sebarkan artikel ini
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menimbulkan kabut asap, LSM Gadjah Puteh sampaikan keprihatinan dan desak pemerintah tetapkan bencana nasional.
Kalimantan membara, kabut asap ancam Aceh. LSM Gadjah Puteh desak pemerintah bertindak.

AtjehUpdate.com., Aceh – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan, khususnya kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, mengundang keprihatinan mendalam dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gadjah Puteh. Bencana ekologis yang belum sepenuhnya terkendali tersebut dinilai telah menjadi ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan publik, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan ekosistem hutan Indonesia.

LSM Gadjah Puteh menyampaikan rasa duka dan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan kabut asap. Organisasi tersebut sekaligus mendesak pemerintah pusat, khususnya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, agar mengambil langkah penanganan luar biasa, termasuk mempertimbangkan penetapan status bencana nasional berdasarkan tingkat keparahan dan luasnya dampak yang ditimbulkan.

Iklan
ⓘ Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Kondisi kebakaran yang belum sepenuhnya teratasi menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar kawasan hutan yang terbakar. Sebaran kabut asap akibat karhutla kini juga menjadi persoalan lintas wilayah, termasuk di Pulau Sumatera, yang dalam beberapa hari terakhir menghadapi ancaman penurunan kualitas udara.

Berdasarkan laporan yang berkembang, kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menghadapi berbagai kendala penanganan, mulai dari sulitnya akses menuju titik api, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, hingga kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang serta menghambat operasi pemadaman melalui udara.

Bahkan, sejumlah relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Kotawaringin Barat sebelumnya menyatakan menarik diri dari kegiatan pemadaman karena menilai dukungan terhadap upaya mereka belum maksimal. Kondisi tersebut memperlihatkan beratnya tantangan yang dihadapi para petugas dan relawan dalam menyelamatkan kawasan hutan dari amukan api.

ⓘ Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Kementerian Kehutanan sendiri telah menyampaikan bahwa upaya pemadaman terus diintensifkan melalui koordinasi lintas instansi, pengerahan personel, serta dukungan operasi darat dan udara. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan agar penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting mendapatkan perhatian khusus.

Namun, LSM Gadjah Puteh menilai perhatian khusus tersebut harus benar-benar diwujudkan melalui tindakan nyata, terukur, dan berkelanjutan. Pemerintah diminta tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga memastikan perlindungan terhadap masyarakat yang terpapar kabut asap, keselamatan para relawan, serta pemulihan lingkungan yang mengalami kerusakan.

Keprihatinan tersebut semakin mendalam setelah kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Aceh sejak Rabu (14/10/2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan telah berkembang menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan yang membutuhkan koordinasi penanganan antardaerah.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran asap karhutla terpantau bergerak menuju sejumlah wilayah Aceh, terutama kawasan tengah, timur, tenggara, dan selatan. Sedikitnya 10 kabupaten/kota dilaporkan berpotensi terdampak, yakni Aceh Singkil, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Kota Langsa.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, kabut asap bahkan telah terlihat di sejumlah kawasan, termasuk Kecamatan Karang Baru hingga pusat Kota Kualasimpang. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang berkurang dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap gangguan kesehatan, khususnya penyakit saluran pernapasan.

Merespons situasi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang bersama tim SAR dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) setempat dilaporkan membagikan sekitar 5.000 masker kepada masyarakat dan pengguna jalan pada Rabu (14/10/2026).

Sementara itu, kondisi udara berkabut juga dilaporkan terjadi di wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. BMKG menjelaskan bahwa pergerakan asap dipengaruhi pola angin dan sebaran titik panas di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Meski demikian, asal dan kontribusi masing-masing sumber asap terhadap kondisi di Aceh masih memerlukan analisis lebih lanjut sehingga tidak dapat langsung disimpulkan seluruhnya berasal dari kebakaran di Kalimantan.

LSM Gadjah Puteh memandang perkembangan tersebut sebagai peringatan serius bahwa kebakaran hutan bukan lagi sekadar persoalan lingkungan di satu daerah, melainkan dapat menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat di wilayah lain.

Ancaman kabut asap dinilai harus mendapatkan perhatian khusus karena kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan berisiko mengalami dampak kesehatan lebih berat akibat paparan polusi udara.

Atas kondisi tersebut, LSM Gadjah Puteh mendesak pemerintah pusat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap skala kebakaran, tingkat kerusakan lingkungan, luas wilayah terdampak, ancaman kesehatan masyarakat, serta kemampuan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana.

Apabila hasil evaluasi menunjukkan terpenuhinya indikator dan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, organisasi tersebut meminta Presiden Prabowo Subianto tidak ragu menetapkan status bencana nasional agar penanganannya dapat dilaksanakan secara lebih terpadu dengan mobilisasi sumber daya yang memadai.

ⓘ Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses