“Kami sangat terkejut dan tak habis pikir bagaimana mungkin di sebuah masjid, rumah Allah, tempat yang seharusnya menjadi tempat aman bagi musafir dan umat yang singgah beristirahat, justru terjadi pengeroyokan hingga merenggut nyawa? Di mana hati nurani itu disembunyikan? Apakah ini cara memperlakukan sesama muslim, atau justru perilaku yang lebih kejam daripada musuh Islam sekalipun?”
Gadjah Puteh menilai tindakan tersebut bukan hanya kriminal, tetapi juga penghinaan terhadap nilai kemanusiaan dan agama.
“Jika benar fakta-fakta ini, maka yang terjadi bukan sekadar penganiayaan, melainkan hilangnya akhlak Islam di Kota Sibolga. Tidak ada satu pun ajaran agama yang membenarkan memukul orang tidur di masjid, apalagi hingga tewas. Bila perilaku seperti ini dibiarkan, maka kita sedang menyaksikan runtuhnya adab dan rahmat dalam beragama.”(red)





