Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Aceh

Diduga Akibat Ulah Calo, Empat Dapur Gizi di Kota Langsa Mandek Beroperasi

84
×

Diduga Akibat Ulah Calo, Empat Dapur Gizi di Kota Langsa Mandek Beroperasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi empat dapur gizi di Kota Langsa yang belum beroperasi, menggambarkan dugaan adanya perantara atau calo dalam pengurusan SPPG sehingga merugikan pelaksana dan menghambat manfaat bagi santri.
Fhoto : Ilustrasi Dapur Yg Dikerjakan Namun Mandek Krn Masalah Ordal

AtjehUpdate.com., Langsa – Program penyediaan dapur bergizi untuk santri dan pelajar di Kota Langsa kembali menjadi perbincangan publik. Empat dapur yang dibangun di sejumlah pesantren dilaporkan belum beroperasi sepenuhnya, meskipun bangunan telah selesai dikerjakan sejak beberapa waktu lalu.

Sejumlah pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pembangunan fasilitas tersebut menyebutkan bahwa persoalannya bukan lagi pada konstruksi fisik, melainkan pada mekanisme operasional dan pemenuhan kelayakan agar dapur dapat dijalankan sesuai standar program.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan dan keresahan dari masyarakat mengenai proses penetapan pelaksana dan pengelolaan pembangunan dapur tersebut. Sejumlah kalangan menilai bahwa alur informasi terkait program ini dirasakan tertutup, sehingga menimbulkan dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang berperan sebagai penghubung atau akses jalur bagi pihak yang ingin berpartisipasi dalam program tersebut.

Sumber yang ditemui mengaku terdapat pelaksana di daerah yang merasa dirugikan karena telah menyelesaikan pekerjaan pembangunan dapur, namun belum menerima kejelasan mengenai hak-hak mereka. Situasi ini menimbulkan persepsi negatif, terlebih di tengah kabar bahwa ada pihak lain alias calo yang diduga telah menerima keuntungan terlebih dahulu meskipun tidak terlibat dalam pelaksanaan teknis di lapangan.

Ironisnya, tujuan utama program dapur bergizi adalah memberikan manfaat langsung bagi santri dan pelajar, namun keterlambatan operasional justru membuat penerima manfaat belum dapat merasakan program gizi tersebut.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Pengamat layanan pendidikan berbasis pesantren menilai bahwa transparansi dalam proses penetapan, verifikasi, serta tata kelola program dapur bergizi perlu diperkuat agar tidak menimbulkan ruang spekulasi mengenai potensi penyimpangan, terlebih jika menyangkut pihak-pihak yang memposisikan diri sebagai perantara.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses