Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Bencana Alam

44 Hari Pasca Banjir: Gadjah Puteh Nilai Aceh Tamiang Masih “Lumpuh”, Desak Presiden Turun Tangan dan Sentil Perusahaan Asing

29
×

44 Hari Pasca Banjir: Gadjah Puteh Nilai Aceh Tamiang Masih “Lumpuh”, Desak Presiden Turun Tangan dan Sentil Perusahaan Asing

Sebarkan artikel ini
Empat puluh empat hari pasca banjir bandang, Aceh Tamiang dinilai belum pulih. Gadjah Puteh menilai penanganan pascabencana lamban dan mendesak keterlibatan langsung Presiden serta pertanggungjawaban perusahaan terafiliasi asing.

AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang | 8 Januari 2026 – Empat puluh empat hari pasca banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi daerah tersebut dinilai masih jauh dari pulih. Lembaga Swadaya Masyarakat Gadjah Puteh menilai penanganan pascabencana berjalan lamban dan tidak terukur, sehingga fasilitas umum stagnan, roda ekonomi warga tertatih, dan ancaman kesehatan terus membayangi akibat debu serta lumpur yang tak kunjung dibersihkan secara menyeluruh.

Direktur Eksekutif Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah, menegaskan bahwa situasi yang berlangsung bukan lagi fase pemulihan normal, melainkan telah masuk kategori krisis darurat yang gagal ditangani dengan regulasi dan kebijakan yang tepat. Menurutnya, ketidakseriusan dalam mengurai persoalan pascabencana berpotensi memperpanjang penderitaan masyarakat dan memperlebar dampak sosial-ekonomi di daerah tersebut.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Aktivitas pengerjaan memang terlihat di sejumlah titik, namun belum ada fasilitas umum yang benar-benar bersih dan kembali berfungsi normal. Air masih menggenang di berbagai lokasi, badan jalan rusak dan berlubang, serta gunungan sampah bercampur lumpur menumpuk di tepi jalan akibat ketidakjelasan lokasi pembuangan akhir. Warga, kata Gadjah Puteh, dipaksa hidup berdampingan dengan kerusakan yang belum tertangani secara sistematis.

Gadjah Puteh menilai, tanpa bantuan relawan, kerabat, dan solidaritas sesama warga, kondisi masyarakat akan jauh lebih buruk. Kantor pelayanan publik masih kotor, rumah-rumah warga belum sepenuhnya dibersihkan dari lumpur, dan ketika matahari terik, debu pekat menyelimuti kota, menambah beban kesehatan warga yang sebelumnya telah terdampak banjir.

Dari sisi ekonomi, Gadjah Puteh menyoroti kehidupan warga yang kini sekadar bertahan untuk makan sehari-hari. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, bantuan sembako justru dilaporkan masih menumpuk di kompleks Kantor Bupati.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses