AtjehUpdate.com., ACEH TAMIANG – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gadjah Puteh mendesak seluruh kementerian yang menaungi sekolah kedinasan untuk segera mengirimkan taruna/praja mereka ke Kabupaten Aceh Tamiang.
Desakan ini mencuat menyusul kondisi pascabanjir yang masih sangat memprihatinkan, di mana wilayah tersebut kini lebih layak disebut sebagai “Kota Kuala Lumpur” akibat endapan lumpur tebal yang melumpuhkan aktivitas warga, bukan lagi Kuala Simpang.
Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh menyatakan keresahannya melihat lambannya pergerakan kementerian teknis selain Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Hukum (Kemenkum) dalam merespons bencana nasional ini. Padahal, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satgas Penanganan Bencana telah secara tegas menginstruksikan pengerahan siswa sekolah kedinasan untuk percepatan pemulihan di daerah terdampak.
“Kita apresiasi langkah cepat Mendagri yang sudah menerjunkan ribuan Praja IPDN, dan info terbaru Kemenkum juga sudah memberangkatkan 119 taruna Poltekpin. Tapi pertanyaannya, kementerian lain mana? Ini perintah Presiden, bukan imbauan biasa.
Jangan sampai instruksi Kepala Negara hanya dianggap angin lalu,” tegas Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Rabu (14/1/2026).
Gadjah Puteh menilai situasi di Aceh Tamiang tidak lagi bisa ditangani dengan cara normal. Lumpur pascabanjir masih menumpuk di banyak titik permukiman, sekolah, fasilitas umum, hingga akses jalan utama warga. Aktivitas ekonomi belum pulih, pelayanan publik masih tersendat, dan beban masyarakat semakin berat karena harus berjuang membersihkan sisa bencana dengan kemampuan terbatas.
Cuaca pun seolah ikut memperparah penderitaan: ketika hujan turun, kota berubah semakin berlumpur dan licin; saat panas menyengat, lumpur yang mengering berubah menjadi debu yang beterbangan, membuat udara terasa sesak dan kondisi lingkungan seperti kota yang tidak layak huni. Namun di tengah situasi itu, masyarakat Aceh Tamiang tetap berjuang keras untuk bertahan hidup, berangkat mencari nafkah, membersihkan rumah seadanya, mengurus keluarga, dan menahan semua keterbatasan yang mereka miliki demi tetap berdiri.
“Ini bukan sekadar kota kotor, ini kota yang benar-benar seperti tertutup lumpur. Sejauh mata memandang, yang tersisa adalah sisa material banjir.
Masyarakat resah, lelah, dan nyaris putus asa. Sampai kapan Aceh Tamiang dibiarkan begini?” lanjut Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh.





