Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Aceh

Banjir Aceh dan Surat Utang 1946: Saat “Bank Darurat” Republik Dibiarkan Tenggelam

60
×

Banjir Aceh dan Surat Utang 1946: Saat “Bank Darurat” Republik Dibiarkan Tenggelam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi banjir besar melanda pemukiman di Aceh disandingkan dengan dokumen lawas Obligasi Pinjaman Nasional 1946, menyimbolkan ironi kontribusi sejarah Aceh dan bencana saat ini.
"Republik Berutang Nyawa, Aceh Dibayar Bencana."

Oleh: Said Zahirsyah

(Direktur Eksekutif Gadjah Puteh)

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

AtjehUpdate.com., ​Banjir yang kembali melumpuhkan Aceh hari ini bukan sekadar peristiwa hidrologi tahunan. Ia adalah pengingat keras bahwa Indonesia masih berutang kepada rakyat Aceh utang yang tidak hanya berbentuk angka di neraca keuangan, tetapi juga utang sejarah, utang moral, dan utang keadilan yang belum pernah benar-benar dilunasi.

​Sejak masa paling rapuh dalam sejarah Republik, rakyat Aceh berdiri di barisan terdepan menopang negara. Ketika Indonesia belum diakui dunia internasional dan tidak memiliki akses pinjaman luar negeri, negara justru berutang kepada rakyatnya sendiri.

Melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1946 tentang Pindjaman Nasional 1946 yang ditandatangani Presiden Soekarno, rakyat diminta dan bersedia menjadi kreditur negara. Termasuk rakyat Aceh, yang hingga hari ini masih menyimpan bukti surat utang negara tersebut.
​Kontribusi Aceh tidak berhenti di atas kertas.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Pada 1948, ketika Republik membutuhkan alat
transportasi strategis, rakyat Aceh mengumpulkan emas dan uang 120 ribu dolar Selat dan sekitar 20 kilogram emas untuk membeli pesawat RI-001 Seulawah. Pesawat pertama Republik Indonesia itu bukan sekadar alat terbang, melainkan simbol bahwa negara ini pernah diselamatkan oleh rakyat Aceh.

​Namun sejarah tidak sepenuhnya ditutup dengan kata “lunas”. Pada 2018, publik kembali diingatkan melalui kemunculan Nyak Sandang, seorang warga Aceh yang membawa bukti obligasi negara terkait kontribusi rakyat Aceh. Peristiwa ini memicu apa yang dikenal sebagai Efek Nyak Sandang.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses