Bravo!
Ini adalah pelajaran sejati tentang solidaritas buta!
Lihat, betapa indahnya generasi yang kita cetak ini. Mereka sangat militan dalam membela kemalasan dan pelanggaran, tapi mungkin sangat pasif saat diminta mengerjakan tugas Fisika. Mereka rela berpanas-panas di depan gerbang, memegang spanduk berisi tuntutan keadilan untuk teman perokok mereka, tapi mungkin tidak sudi membuka buku pelajaran di malam hari.
Ini adalah pergeseran moral yang fantastis! Pahlawan kita bukan lagi orang yang berintegritas, melainkan orang yang paling berani melanggar. Sekolah bukan lagi tempat untuk membentuk karakter, melainkan tempat uji coba seberapa jauh kita bisa menantang otoritas tanpa konsekuensi.
Tambahan lagi Kepada Bapak dan Ibu Guru yang masih percaya bahwa tugas Anda adalah mendidik, membentuk karakter, dan menjaga kedisiplinan, saya sampaikan: Selamat! Anda berada di profesi yang salah!
Sebab kenyataannya Tugas Anda sekarang hanyalah sebagai “penyedia layanan informasi” yang tidak boleh menyentuh emosi atau fisik pelanggan (siswa) sedikit pun.
Jadi Biarkan mereka merokok. Biarkan mereka berbuat sesuka hati. Jika ada aturan yang dilanggar, catat baik-baik, buat laporan yang rapi, dan serahkan kepada orang tuanya. Orang tua mereka jauh lebih bijak dan berani menyelesaikan masalah di kantor polisi.
Mari kita dukung para siswa yang mogok ini. Karena bagaimanapun, di Republik “Anak Emas” ini, guru yang salah karena mencoba benar, dan pelanggar aturan adalah korban yang harus dibela hingga titik darah penghabisan.
Selamat mengajar, dan semoga Anda selalu sabar… sampai gajian! Sampai TPG cair! Sampai diangkat jadi PPPK!(*)





