AtjehUpdate.com., Aceh Tamiang – Barangkali orang datang ke lintasan balap untuk melihat siapa tercepat di antara para pembalap muda yang memutar gasnya sampai batas, menaklukkan aspal dan adrenalin. Tapi di luar suara knalpot dan debu yang berputar di udara, ada denyut lain yang sering luput dari sorotan kamera: ekonomi kecil yang ikut berputar, berdesing pelan tapi pasti di setiap tikungan.
Di sepanjang pagar sirkuit non permanen Aceh Ramoang, tempat Kejurprov IMI Aceh Honda Cup Race Putaran 4 digelar, berderet warung tenda sederhana. Ada yang menjual mi instan panas dengan telur setengah matang, ada pula yang menawarkan kopi hitam yang diseduh dengan tangan yang terbiasa dengan bara kompor minyak. Pedagang kecil yang sehari-hari mungkin berjualan di pasar kampung hari itu menjadi bagian dari pesta besar yang tak pernah mereka rencanakan, tapi mereka pahami betul artinya: peluang.
Di sela suara motor yang meraung, uang berpindah tangan dalam irama yang sederhana tapi berulang. Secangkir kopi dua ribu, nasi bungkus sepuluh ribu, air mineral lima ribu. Tidak ada kemegahan di situ, tapi ada kehidupan. Ada ekonomi rakyat yang bergerak, kecil tapi nyata.
Mungkin inilah yang luput dari perhatian banyak pejabat ketika berbicara tentang “efek ekonomi” sebuah event. Bagi mereka, efek itu diukur dari angka berapa juta atau miliar uang yang berputar. Tapi bagi pedagang kecil, efek itu sederhana: hari itu mereka tidak pulang dengan tangan kosong.





