AtjehUpdate.com., Jakarta – Gadjah Puteh menilai pernyataan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto yang menyebut banjir di Sumatera “terlihat mencekam karena berseliweran di media sosial” sangat tidak sesuai dengan kondisi nyata di Aceh. Pernyataan bahwa situasi sudah membaik justru bertolak belakang dengan fakta bahwa banyak wilayah masih terendam, terisolasi, dan belum tersentuh bantuan.
Data resmi Operasi SAR Banda Aceh menunjukkan skala bencana yang jauh lebih serius daripada yang disampaikan pemerintah pusat. Dalam empat hari operasi, total 548 jiwa telah dievakuasi, terdiri dari 117 jiwa di Langsa, 249 jiwa di Pidie Jaya, 143 jiwa di Bireuen, 24 jiwa di Aceh Tenggara, dan puluhan lainnya di Aceh Barat, Nagan Raya, serta Pidie. Selain itu, beberapa kabupaten juga melaporkan korban jiwa akibat gagal dievakuasi tepat waktu dan terseret arus banjir.
Gadjah Puteh mencatat banyak desa yang terisolasi berjam-jam hingga dua hari tanpa makanan, listrik, dan komunikasi. Warga terpaksa menggunakan rakit darurat untuk mengevakuasi anak-anak dan lansia. Di beberapa lokasi, masyarakat mulai menjarah warung kecil karena tidak ada bantuan logistik yang masuk, sementara air terus bertahan di ketinggian berbahaya.
Lambatnya respon Basarnas memperburuk keadaan. Alut yang diturunkan tidak sebanding dengan luas wilayah terdampak, sementara tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi karena banyaknya jalan amblas dan jembatan rusak. Beberapa laporan kedaruratan bahkan tidak tertangani cepat karena jaringan komunikasi putus total di sejumlah kecamatan.





