Di periode pertengahan karier, sekitar 2014 hingga 2020, Bier Budy dipercaya memimpin beberapa Kantor Bea Cukai di wilayah strategis. Pada masa ini, laporan LHKPN yang ia sampaikan memperlihatkan tren peningkatan kekayaan, terutama pada sektor tanah dan bangunan. Properti di Jakarta dan Surabaya menjadi penopang utama kenaikan nilai harta.
Dalam laporan periodik tahun 2024 yang diumumkan pada Februari 2025, Bier Budy sudah menduduki jabatan Kepala Kantor di lingkungan DJBC. Kekayaannya melonjak menjadi Rp5,29 miliar. Aset terbesar berupa tanah dan bangunan di Jakarta Timur dengan nilai Rp3,53 miliar, disusul kepemilikan properti di Surabaya dan Mojokerto. Ia juga mencatatkan kendaraan Toyota Harrier dan dua unit motor sebagai bagian dari harta kekayaannya.
Perbandingan antara LHKPN 2011 dengan LHKPN 2024 menunjukkan kenaikan hampir Rp3,2 miliar dalam kurun waktu 14 tahun. Lonjakan harta ini sejalan dengan peningkatan kariernya yang melaju mulus dari pejabat eselon IV di Malang hingga kini menempati posisi yang menempatkannya dekat dengan kursi Eselon I Kementerian Keuangan.
Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Said Zahirsyah, menilai fenomena ini perlu dicermati serius. “Publik patut bertanya, apakah perjalanan karier yang begitu mulus ini sekadar buah dari prestasi pribadi, atau ada kaitannya dengan keberadaan kerajaan bayangan di tubuh Bea Cukai? Kita melihat banyak pejabat yang kariernya berjalan lurus tanpa hambatan, sementara daerah-daerah tertentu seperti Aceh justru hanya menjadi tempat lompatan semata. Pertanyaan lain yang mengemuka: apakah Bier Budy juga bagian dari jejaring itu? Jika iya, maka ke depan yang dipertaruhkan bukan hanya integritas individu, tetapi juga kepercayaan publik terhadap reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan.”





