AtjehUpdate.com., ACEH TAMIANG | 15 Januari 2026 – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pandora menyoroti tajam lambannya penanganan manajerial di tubuh PDAM Tirta Tamiang yang dinilai memperburuk krisis air bersih di tengah kondisi pasca-bencana.
Di saat infrastruktur luluh lantak dan kebutuhan masyarakat meningkat drastis, kekosongan pejabat definitif di internal PDAM dianggap sebagai “bom waktu” yang menghambat pemulihan total layanan air bersih bagi warga Aceh Tamiang.
LSM Pandora menegaskan, situasi PDAM Tirta Tamiang bukan sekadar gangguan layanan biasa, melainkan sudah masuk fase darurat. Banyak titik vital operasional terdampak lumpur tebal, jaringan distribusi terganggu, dan sejumlah instalasi pengolahan tidak berjalan normal.
Namun alih-alih ditangani dengan langkah cepat dan tegas, persoalan ini justru terkesan terjebak dalam pola birokrasi lamban yang tidak peka terhadap kondisi lapangan.
LSM Pandora menilai tidak tampak sense of crisis yang kuat dari pemerintah daerah dalam mengambil keputusan manajerial PDAM.
Padahal, air bersih adalah kebutuhan paling mendasar yang menentukan kesehatan, keselamatan, dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat pasca-bencana. Ketika air tidak mengalir, maka penderitaan rakyat tidak berhenti justru bertambah panjang.
Yang paling memprihatinkan, kata LSM Pandora, adalah fakta bahwa masyarakat bukan hanya membutuhkan air untuk konsumsi, mandi, dan memasak, tetapi juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk membersihkan lumpur yang mengubur rumah-rumah mereka.
Lumpur pascabanjir bukan sekadar kotoran biasa. Ia menempel di lantai, meresap ke dinding, mengendap di saluran, mencemari sumur, merusak perabot, dan memicu penyakit. Membersihkan lumpur berarti membutuhkan pasokan air yang banyak dan stabil, bukan sedikit, bukan sesekali, dan bukan sekadar formalitas bantuan.
Ironisnya, LSM Pandora menilai pola penyaluran bantuan air bersih saat ini lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan fasilitas umum.
Sementara pada saat yang sama, warga yang rumahnya tertimbun lumpur justru tidak mendapatkan akses air dalam jumlah memadai untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka.
Pertanyaannya sederhana: bagaimana masyarakat bisa memulihkan rumahnya jika air untuk membersihkan saja tidak tersedia? Bagaimana mungkin rakyat diminta segera kembali normal, sementara alat utama untuk normalisasi yaitu air tidak bisa mereka akses dalam skala besar?





