Oleh: Johannes | pemerhati politik dan penulis aktif di AtjehUpdate.com
Ada satu hal yang tak pernah usang dalam politik Indonesia: aroma kepentingan. Ia tak lekang oleh waktu, tak pudar oleh pergantian rezim. Dan kini, dari rahim relawan yang dulu mengusung kesederhanaan dan idealisme, kita menyaksikan metamorfosis lain dari tokoh bernama Budi Arie Setiadi.
Ketua Umum Projo itu, yang dulu dikenal sebagai loyalis militan Presiden Jokowi, kini mengumumkan arah barunya: merapat ke Partai Gerindra, partai sang Presiden baru, Prabowo Subianto. Budi menyebut, Projo bukan lagi singkatan dari Pro-Jokowi. Kata “Pro” kini lentur, bisa berarti apa saja tergantung ke mana angin kekuasaan bertiup.
Seperti halnya daun-daun gugur yang mengikuti arah musim, Projo tampaknya tengah belajar menjadi organisasi yang cair. “Kami mendukung pemerintahan Prabowo,” kata Budi dengan nada penuh kalkulasi. Tapi publik tentu bertanya: sejak kapan kesetiaan berganti arah secepat pergantian kabinet?
Politik memang tidak mengenal nostalgia. Namun langkah Budi Arie tetap menarik, bukan karena ia melawan Jokowi, tetapi karena ia sedang menegosiasikan posisi baru dalam lingkar kekuasaan. Ia seolah berkata kepada penguasa baru, “Kami tak lagi relawan, kami mitra yang siap berlayar bersama.”
Dalam politik kekuasaan, loyalitas jarang gratis. Ia dibarter dengan jabatan, akses, dan tentu saja rasa aman. Maka, di balik langkah “ideologis” itu, banyak yang membaca sinyal pragmatis: menjaga relevansi di tengah rezim baru, sambil menutup celah lama yang bisa berbahaya bila kekuasaan bergeser.





