Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Opini

Menakar Arah Politik Budi Arie: Antara Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jokowi

104
×

Menakar Arah Politik Budi Arie: Antara Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jokowi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Budi Arie Setiadi dengan latar simbol Projo dan Partai Gerindra, menggambarkan pergeseran dukungan politik dari Jokowi ke Prabowo.
Budi Arie Setiadi melakukan manuver politik dengan mengarahkan Projo mendukung pemerintahan Prabowo, menimbulkan pertanyaan publik mengenai loyalitas dan idealisme relawan pendukung Jokowi.

Oleh: Johannes | pemerhati politik dan penulis aktif di AtjehUpdate.com

Ada satu hal yang tak pernah usang dalam politik Indonesia: aroma kepentingan. Ia tak lekang oleh waktu, tak pudar oleh pergantian rezim. Dan kini, dari rahim relawan yang dulu mengusung kesederhanaan dan idealisme, kita menyaksikan metamorfosis lain dari tokoh bernama Budi Arie Setiadi.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Ketua Umum Projo itu, yang dulu dikenal sebagai loyalis militan Presiden Jokowi, kini mengumumkan arah barunya: merapat ke Partai Gerindra, partai sang Presiden baru, Prabowo Subianto. Budi menyebut, Projo bukan lagi singkatan dari Pro-Jokowi. Kata “Pro” kini lentur, bisa berarti apa saja tergantung ke mana angin kekuasaan bertiup.

Seperti halnya daun-daun gugur yang mengikuti arah musim, Projo tampaknya tengah belajar menjadi organisasi yang cair. “Kami mendukung pemerintahan Prabowo,” kata Budi dengan nada penuh kalkulasi. Tapi publik tentu bertanya: sejak kapan kesetiaan berganti arah secepat pergantian kabinet?

Politik memang tidak mengenal nostalgia. Namun langkah Budi Arie tetap menarik, bukan karena ia melawan Jokowi, tetapi karena ia sedang menegosiasikan posisi baru dalam lingkar kekuasaan. Ia seolah berkata kepada penguasa baru, “Kami tak lagi relawan, kami mitra yang siap berlayar bersama.”

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Dalam politik kekuasaan, loyalitas jarang gratis. Ia dibarter dengan jabatan, akses, dan tentu saja rasa aman. Maka, di balik langkah “ideologis” itu, banyak yang membaca sinyal pragmatis: menjaga relevansi di tengah rezim baru, sambil menutup celah lama yang bisa berbahaya bila kekuasaan bergeser.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses