AtjehUpdate.com., Jakarta – Kehadiran Djaka Budi Utama sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai terus menjadi perhatian publik. Namun di tengah upaya pembenahan yang sedang berjalan, muncul pertanyaan yang menurut kami layak dijawab secara jujur dan terbuka.
Siapa sebenarnya yang terganggu dengan kehadiran Letjen Djaka Budi Utama di Bea Cukai?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Sebab belum lama menjabat sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai, berbagai narasi yang mengarah pada pelemahan kepemimpinannya mulai bermunculan dari berbagai arah. Seolah-olah seluruh persoalan yang selama bertahun-tahun membelit institusi tersebut harus dipikul oleh seorang pimpinan yang baru datang ke dalam sistem.
Menurut Said Zahirsyah, publik harus melihat persoalan ini secara utuh dan tidak terjebak pada kesimpulan yang terburu-buru.
“Yang menjadi pertanyaan bagi kami, mengapa ketika seorang jenderal berlatar belakang intelijen ditempatkan di Bea Cukai, justru muncul kegaduhan yang luar biasa. Padahal persoalan yang selama ini menjadi sorotan masyarakat bukanlah persoalan yang lahir setelah beliau menjabat. Sebagian sudah berlangsung bertahun-tahun bahkan puluhan tahun,” ujar Said Zahirsyah, Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh.
Kami menilai sangat tidak logis apabila berbagai persoalan lama yang selama ini menjadi perhatian publik tiba-tiba dibebankan kepada seorang Direktur Jenderal yang baru memimpin dalam waktu relatif singkat.
Letjen Djaka bukanlah birokrat karier Bea Cukai. Beliau bukan bagian dari lingkaran lama institusi tersebut. Beliau datang dari dunia yang berbeda, yaitu dunia militer dan intelijen. Kariernya terbentuk dari berbagai penugasan strategis mulai dari Kopassus, dunia intelijen TNI, Danpusintelad hingga dipercaya menjadi Sekretaris Utama BIN.
Karena itu kami meyakini Prabowo Subianto tentu memiliki pertimbangan yang sangat matang ketika menempatkan seorang perwira dengan latar belakang tersebut di salah satu institusi paling strategis dalam menjaga penerimaan negara.
Dalam dunia intelijen terdapat prinsip yang sederhana. Tidak mungkin sebuah persoalan besar dapat berlangsung lama tanpa adanya celah yang memungkinkan persoalan itu terus terjadi.
Karena itu, seorang perwira intelijen tentu tidak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga bagaimana pola, sistem, tata kelola, serta berbagai aspek yang selama ini membentuk organisasi tersebut.
Atas dasar itu, Said Zahirsyah selaku Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh berpendapat bahwa reformasi Bea Cukai tidak boleh hanya dipandang dari satu orang di pucuk pimpinan.
Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh struktur organisasi yang memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan, tata kelola organisasi, maupun pengelolaan sumber daya manusia.
Diketahui pula bahwa Gatot Sugeng Wibowo yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Soekarno-Hatta.
Namanya sempat menjadi perhatian publik pada era Menteri Keuangan sebelumnya ketika muncul berbagai polemik pelayanan dan viralnya persoalan barang mainan milik seorang konten kreator yang menuai sorotan luas masyarakat terhadap tata kelola Bea Cukai saat itu.
Gatot Sugeng Wibowo juga diketahui berasal dari alumni Diploma 3 STAN angkatan 4 yang merupakan satu angkatan dengan Heru Pambudi yang saat ini dinonjobkan menjadi staf biasa di Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.
Sementara Ari Wibawa Yusuf yang berada di bawah struktur Sekretariat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diketahui berasal dari alumni Diploma 3 STAN angkatan 10 yang juga satu angkatan dengan Andhi Pramono yang sempat menjadi sorotan publik dalam kasus flexing terkait gaya hidup mewah keluarga dan anak istrinya beberapa waktu lalu.





