Kita tahu, politik Indonesia hidup dari patronase. Siapa di dekat penguasa, ia hidup. Siapa di pinggir, ia lekas dilupakan. Maka Budi Arie dan Projo seperti sedang mencari tempat teduh baru di bawah pohon Prabowo yang kini rimbun daunnya. Ia tak ingin jadi relawan yatim, terjebak di masa lalu Jokowi yang segera tinggal kenangan.
Namun, seperti kata orang tua di warung kopi: “Kalau dulu kau berteriak ‘Pro Jokowi’, lalu kini ‘Pro Prabowo’, apa sebenarnya yang kau perjuangkan? Orangnya, atau kuasanya?” Pertanyaan sederhana itu menggigit.
Adagium bijak menyebut, kekuasaan di negeri ini sering tampil seperti cermin buram: siapa pun yang bercermin di sana akan tampak lebih besar, tapi juga lebih kabur. Barangkali, di cermin itulah kini Budi Arie menatap dirinya antara citra relawan dan figur politisi yang mulai belajar bertransaksi.
Politik, pada akhirnya, adalah seni bertahan. Dan mereka yang lihai membaca arah angin akan selalu menemukan kapal baru untuk berlayar. Tapi sejarah juga punya catatan lain: kapal yang terlalu sering berpindah pelabuhan, akhirnya kehilangan bendera sendiri.
Mungkin, suatu hari nanti, Projo akan tinggal sebagai nama kosong di buku sejarah tanpa wajah Jokowi, tanpa ruh relawan, hanya bayang-bayang dari sebuah masa ketika idealisme sempat punya panggung, sebelum akhirnya diseret turun oleh realitas kekuasaan.





