AtjehUpdate.com,- Karang Baru |
Rumah Wak Inem kini tak lebih dari ingatan yang tercerai. Dindingnya roboh, tiangnya patah, dan lantainya larut bersama lumpur—seperti kerupuk yang terlalu lama dicelup air: melemah, remuk, lalu lenyap tanpa sempat mengeluh. Begitulah banjir bandang Aceh Tamiang merenggut hidup perempuan 54 tahun itu—cepat, dingin, dan tanpa aba-aba.
Di antara puing kayu basah dan sisa atap yang menggantung putus asa, Wak Inem berdiri. Tangannya menggenggam sehelai sarung lusuh—satu-satunya benda yang sempat ia rebut dari cengkeraman arus. Tak ada lemari, tak ada ranjang, tak ada foto masa lalu. Semua yang pernah ia sebut “rumah” telah diangkut air yang gelap dan murka.
Namun di wajahnya tak ada teriakan. Tak ada makian. Yang tersisa hanya letih yang dipoles ketabahan.
“Alhamdulillah masih bisa berdiri, Nak,” ucapnya lirih—seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidup belum sepenuhnya runtuh.
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari reruntuhan. Kita kerap lupa: yang paling sering diminta kuat justru mereka yang paling sedikit memiliki pilihan. Orang-orang seperti Wak Inem mengajari kita tentang ketegaran, tanpa pernah diberi ruang untuk sekadar menangis tanpa dituntut bangkit.
Ia lalu menunduk, memungut pecahan piring bermotif bunga—satu-satunya peninggalan ibunya yang masih tersisa. Tangannya yang bergetar mengusap lumpur di permukaannya, seakan membersihkan luka yang tak pernah sempat sembuh.
“Nanti kita mulai lagi,” katanya.
Bukan kepada siapa pun. Bukan pula kepada langit.
Kalimat itu ia ucapkan kepada dirinya sendiri—sebuah ikrar sunyi untuk berdamai dengan kehilangan.
Di atas tanah liat yang masih basah, di tengah sunyi yang baru ditinggalkan air, saya melihat sesuatu yang tak mampu diseret banjir: keberanian.
Keberanian seorang perempuan kampung yang kehilangan segalanya, namun menolak tumbang bersama rumahnya.
Rumah Wak Inem hancur seperti kerupuk.
Tapi hatinya—entah bagaimana—tetap utuh.(Juliansyah)





