AtjehUpdate.com,- Di sebuah ruang ujian berpendingin udara, deretan wajah letih duduk menghadap layar komputer. Sebagian mengenakan kacamata baca, sebagian lainnya menatap kosong — menunggu petunjuk yang tak kunjung jelas.
Demikian ASN tua Aceh Tamiang itu, Kamis (13/11). Setelah puluhan tahun menulis laporan dengan pena dan tinta, kini ia diminta mengisi kolom-kolom digital dalam sesuatu yang disebut “profiling.”
Kata itu — profiling — terdengar modern, berbau Jakarta, dan tentu saja disampaikan dengan alasan mulia: meningkatkan profesionalisme, menyesuaikan kompetensi, membangun birokrasi yang adaptif. Tapi di balik jargon itu, ada sesuatu yang tak terucap. Sebuah ketidaksopanan yang halus — seperti menanyakan ijazah pada seorang kakek yang sudah mengajar seumur hidupnya.
Mereka datang bukan untuk mencari jabatan. Mereka hanya ingin menuntaskan masa bakti tanpa dihina oleh sistem yang lupa caranya menghormati.
_Rajin Menilai Tapi Malas Menghargai !
Saya teringat satu kalimat yang pernah diucapkan seorang guru tua : “Negeri ini terlalu rajin menilai, tapi malas menghargai.” Profiling ASN di Aceh Tamiang tampaknya sedang menjadi contoh kecil dari kalimat itu. Di balik layar-layar komputer itu, negara sedang sibuk menilai para pegawainya, tanpa tahu apakah mereka masih sanggup memahami pertanyaan yang dibuat oleh orang orang muda di lembaga pusat.
Kini, timbul pertanyaan kecil dibenak saya ; apakah kompetensi bisa diukur dari seberapa cepat mereka mengklik tombol submit? Atau seberapa mahir mereka menavigasi sistem daring yang sering macet sinyalnya?
Birokrasi Indonesia memang punya selera aneh terhadap “modernisasi”. Ia suka meniru bentuk, tapi melupakan jiwa. Di Aceh Tamiang, para ASN tua itu juga diuji dengan berbagai macam algoritma pertanyaan, jumlahnya nyaris mencapai se-ribu, seolah pengabdian yang ditulis dengan peluh di arsip berbagai kertas, kini tak lagi punya nilai lagi.





