Ada seorang bapak, usianya nyaris tak memenuhi ambang syarat, turut ikut sesi profiling. Ia duduk diam, disesi rehat ujian, tarikan panjang rokok Syamsu black dimulutnya dan ia pun berkata :
“Nak, saya dulu mengetik pakai mesin tik, sekarang disuruh isi mekanisme online. Kalau lambat, berarti saya bodoh, ya!?”
Aku terhentak kemudian diam. Seperti ada benda keras yang tiba tiba menghantam di mukaku. Dikalimat itu, ada tersimpan ironi yang paling dalam: negara menuntut efisiensi dari orang-orang yang telah ia biarkan berjalan sendiri selama puluhan tahun.
Profiling ini mungkin akan selesai dalam beberapa sehari. Tapi yang tersisa adalah rasa kikuk — antara ingin dianggap mampu, dan sadar bahwa waktu telah berpihak pada generasi lain. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam masih mereka bawa: rasa tanggung jawab yang tak bisa diuji oleh sistem mana pun.
ASN tua itu, dengan langkah pelan dan jari gemetar, masih datang tepat waktu, masih menulis laporan, masih berusaha memahami istilah-istilah yang baru ia dengar. Ia tahu, dunia berubah cepat, tapi yang tidak boleh hilang adalah kehormatan dalam bekerja.
Mungkin itu yang dilupakan oleh banyak pejabat muda di kabupaten ini: bahwa profesionalisme tanpa rasa hormat hanyalah kesombongan birokrasi.
.
Profiling seharusnya bukan soal siapa yang masih layak, tapi bagaimana sistem menghargai mereka yang sudah lama setia.
Karena di balik setiap file dan nomor induk pegawai itu, ada manusia yang dulu menyalin dokumen di bawah keterbatasan— ketika Aceh Tamiang belum seindah brosur pemkab di berbagai media sosial.
Kini, diujung karier mereka, yang paling mereka harapkan bukanlah nilai yang tinggi, tapi hanya sekadar satu kalimat sederhana: “Terima kasih, Bapak. Ibu. Negeri ini berdiri karena tangan-tangan kalian.”





