Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Hukum & Kriminal

Gadjah Puteh: Lolosnya 133 Ton Bawang Bombay Bukti Lemahnya Intelijen Bea Cukai, Desak Evaluasi Total Pola Mutasi “Rezim Lama”

105
×

Gadjah Puteh: Lolosnya 133 Ton Bawang Bombay Bukti Lemahnya Intelijen Bea Cukai, Desak Evaluasi Total Pola Mutasi “Rezim Lama”

Sebarkan artikel ini
Aktivis LSM Gadjah Puteh menyoroti lemahnya pengawasan Bea Cukai terkait lolosnya 133 ton bawang bombay ilegal di pelabuhan, menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem intelijen dan pola mutasi pejabat.
LSM Gadjah Puteh menilai terbongkarnya penyelundupan 133 ton bawang bombay ilegal lewat aduan masyarakat menjadi bukti lemahnya fungsi intelijen Bea Cukai dan mendesak evaluasi total pola mutasi jabatan.

AtjehUpdate.com., Semarang – 6 Januari 2026 – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gadjah Puteh menyoroti keras lolosnya penyelundupan 133 ton bawang bombay ilegal dari Pontianak ke Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Kasus tersebut justru terbongkar bukan melalui deteksi dini aparat kepabeanan, melainkan berawal dari laporan masyarakat ke kanal “Lapor Pak Amran” milik Kementerian Pertanian.

Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah, menilai peristiwa ini merupakan tamparan serius bagi kinerja pengawasan dan intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menurutnya, masuknya ratusan ton komoditas ilegal melalui jalur laut tanpa terdeteksi menunjukkan lemahnya sistem pencegahan sejak pelabuhan asal.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

“Ini bukan soal penindakan di hilir, tetapi kegagalan di hulu. Bagaimana mungkin ratusan ton bawang bombay ilegal bisa berangkat dari pelabuhan asal, berlayar bebas, dan baru terungkap karena aduan masyarakat ke Kementerian Pertanian. Ini menunjukkan fungsi intelijen dan pengawasan Bea Cukai tidak berjalan optimal,” tegas Sayed.

Ia menambahkan, fakta bahwa kementerian teknis di luar Bea Cukai justru berperan dominan dalam mengungkap kasus ini memperlihatkan adanya persoalan serius dalam koordinasi dan sistem deteksi dini lintas instansi. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi membuka ruang kebocoran penerimaan negara sekaligus merugikan petani lokal akibat masuknya komoditas ilegal.

Lebih lanjut, Gadjah Puteh menduga lemahnya pengawasan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan pola mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Bea Cukai yang dinilai belum sepenuhnya berbasis meritokrasi. Sayed menyebut terdapat indikasi kuat masih bertahannya pengaruh “rezim lama” melalui penempatan pejabat-pejabat tertentu di posisi strategis.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses