Amanat konstitusi ini bukan sekadar teks hukum, tetapi kewajiban moral dan politik yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama saat anak-anak berada dalam kondisi paling rentan seperti pasca bencana.
Oleh karena itu, Gadjah Puteh secara terbuka meminta pemerintah pusat dan daerah untuk bertanggung jawab penuh atas munculnya fenomena anak-anak korban banjir yang mengemis di jalanan Aceh Tamiang.
Secara khusus, kami mendesak Dinas Sosial serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AKB) Aceh Tamiang untuk segera melakukan intervensi langsung ke lapangan.
Negara tidak boleh berhenti pada penyaluran logistik semata, tetapi harus memastikan pemulihan psikososial, perlindungan anak, dan pengembalian mereka ke ruang aman sekolah, keluarga, dan lingkungan bermain yang sehat.
Gadjah Puteh juga mendesak kementerian dan lembaga terkait baik yang menangani perlindungan perempuan dan anak, kependudukan dan keluarga, pengawasan hak anak, pendidikan, sosial, maupun koordinasi pembangunan manusia untuk turun langsung ke lapangan, hadir secara nyata, dan menghibur serta memulihkan generasi bangsa ini.
Langkah konkret ini penting agar tidak ada lagi pembiaran terhadap anak-anak yang terpaksa turun ke jalan. Anak-anak tidak hanya butuh makanan, tetapi juga perhatian, rasa aman, dan harapan.
Dari lubuk hati yang paling dalam, Gadjah Puteh turut mengetuk nurani pimpinan tertinggi negeri ini. Anak-anak Aceh Tamiang harus dirangkul sebagai anak-anak emas generasi bangsa. Di pundak merekalah masa depan negeri ini bertumpu. Visi besar negara tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk program pemenuhan gizi dan kesejahteraan anak, tidak akan bermakna jika trauma, ketakutan, dan pengabaian dibiarkan menggerogoti jiwa mereka.
Kewajiban kita hari ini sebagai pemerintah, pemangku kebijakan, dan para dedengkot bangsa adalah memastikan anak-anak ini tidak berhenti mencintai negeri ini, apa pun yang mereka alami.
Jangan biarkan mereka tumbuh dengan ingatan bahwa di saat paling gelap dalam hidupnya, negara memilih berpaling. Sebab jika negara gagal menjaga anak-anaknya hari ini, maka esok hari kita sedang mempertaruhkan masa depan Indonesia itu sendiri.(red)





