Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
AcehBencana Alam

“Hari ke-26 Pasca Banjir: Ketika Seorang Anak Masih Menunggu Roti di Jalan Raya”

53
×

“Hari ke-26 Pasca Banjir: Ketika Seorang Anak Masih Menunggu Roti di Jalan Raya”

Sebarkan artikel ini
Seorang anak berdiri di tepi Jalan Lintas Medan–Banda Aceh di Karang Baru Aceh Tamiang menadahkan tangan meminta roti kepada pengguna jalan 26 hari pasca banjir bandang
26 hari pasca banjir bandang di Aceh Tamiang seorang anak masih berdiri di jalan lintas Medan–Banda Aceh menunggu sepotong roti ketika bantuan mulai menghilang

Di balik kemudi, orang-orang melanjutkan perjalanan. Ada yang merasa haru. Ada yang merasa sudah cukup berbuat baik hari itu. Ada pula yang menutup kaca jendela, karena terlalu banyak kenyataan bisa mengganggu AC dan playlist favorit.

Ironinya, jalan lintas ini dibangun untuk mempercepat distribusi. Barang, manusia, logistik. Tapi justru di sini, distribusi paling mendasar—makanan untuk anak—harus berhenti pada belas kasihan.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Banjir bandang telah surut. Spanduk bantuan sudah mulai pudar warnanya. Kamera-kamera sudah pindah ke tragedi lain. Tinggal anak itu, berdiri di tepi jalan, menjadi arsip hidup yang tidak pernah masuk berita lanjutan.

Mungkin kelak kita akan lupa tanggalnya.
Mungkin kita hanya ingat banjir sebagai peristiwa alam.

Tapi Sabtu itu, 13 Desember 2025, seorang anak mengingat sesuatu yang lebih sederhana dan lebih kejam: bahwa hidup pasca bencana tidak dimulai dari rehabilitasi—melainkan dari sepotong roti yang diberikan di jalan raya, ketika negara masih sibuk menghitung hari ke-26.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses