Di balik kemudi, orang-orang melanjutkan perjalanan. Ada yang merasa haru. Ada yang merasa sudah cukup berbuat baik hari itu. Ada pula yang menutup kaca jendela, karena terlalu banyak kenyataan bisa mengganggu AC dan playlist favorit.
Ironinya, jalan lintas ini dibangun untuk mempercepat distribusi. Barang, manusia, logistik. Tapi justru di sini, distribusi paling mendasar—makanan untuk anak—harus berhenti pada belas kasihan.
Banjir bandang telah surut. Spanduk bantuan sudah mulai pudar warnanya. Kamera-kamera sudah pindah ke tragedi lain. Tinggal anak itu, berdiri di tepi jalan, menjadi arsip hidup yang tidak pernah masuk berita lanjutan.
Mungkin kelak kita akan lupa tanggalnya.
Mungkin kita hanya ingat banjir sebagai peristiwa alam.
Tapi Sabtu itu, 13 Desember 2025, seorang anak mengingat sesuatu yang lebih sederhana dan lebih kejam: bahwa hidup pasca bencana tidak dimulai dari rehabilitasi—melainkan dari sepotong roti yang diberikan di jalan raya, ketika negara masih sibuk menghitung hari ke-26.(redaksi)





