Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga yaitu: sunnah qauliyah (perkataan), sunnah fi’liyah (perbuatan), dan sunnah taqririyah (pembiaran). Ketiga bentuk ini merupakan pedoman penting bagi umat Islam dalam memahami dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Pemahaman yang tepat terhadap perbedaan dan implementasi ketiganya sangat krusial untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.
Artikel ini akan mengupas tuntas ketiga klasifikasi sunnah tersebut, menjelaskan perbedaan mendasarnya, memberikan contoh-contoh konkret, dan membahas bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan kita dapat lebih bijak dalam memahami dan mengamalkan sunnah Nabi.
Pengklasifikasian Sunnah: Pada Umumnya Para Ulama Mengklasifikasikan Bentuk Sunnah Menjadi Tiga Yaitu

Para ulama telah mengklasifikasikan sunnah Nabi Muhammad SAW ke dalam tiga bentuk utama, yaitu sunnah qauliyyah, sunnah fi’liyyah, dan sunnah taqririyyah. Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan ketiganya sangat penting untuk memahami ajaran Islam secara komprehensif dan menghindari kesalahan dalam praktik keagamaan.
Tiga Bentuk Utama Sunnah
Pengklasifikasian sunnah ini didasarkan pada bagaimana sunnah tersebut disampaikan atau diwujudkan oleh Nabi Muhammad SAW. Perbedaan utama terletak pada medium penyampaian dan bentuk tindakan yang terkait.
- Sunnah Qauliyyah: Merupakan sunnah yang disampaikan melalui perkataan Nabi Muhammad SAW, baik berupa hadits, khutbah, atau nasihat. Sunnah ini menitikberatkan pada ucapan dan penyampaian pesan Nabi.
- Sunnah Fi’liyyah: Merupakan sunnah yang diwujudkan melalui perbuatan atau tindakan Nabi Muhammad SAW. Sunnah ini menunjukkan bagaimana Nabi menjalankan ibadah, berinteraksi sosial, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
- Sunnah Taqririyyah: Merupakan sunnah yang diwujudkan melalui sikap Nabi SAW yang membiarkan atau menerima suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabatnya tanpa memberikan larangan. Sikap diam atau penerimaan ini menunjukkan persetujuan Nabi terhadap perbuatan tersebut.
Perbedaan Mendasar Ketiga Bentuk Sunnah
Perbedaan mendasar terletak pada cara Nabi SAW menyampaikan ajarannya. Sunnah qauliyyah disampaikan secara verbal, sunnah fi’liyyah melalui tindakan, dan sunnah taqririyyah melalui persetujuan diam atas tindakan orang lain.
Contoh Masing-Masing Bentuk Sunnah
- Sunnah Qauliyyah: Hadits Nabi SAW yang menganjurkan untuk membaca shalawat merupakan contoh sunnah qauliyyah. Ucapan Nabi SAW tersebut menjadi pedoman bagi umat Islam dalam beribadah.
- Sunnah Fi’liyyah: Sholat Nabi SAW dengan cara-cara tertentu, seperti gerakan rukuk dan sujud, merupakan contoh sunnah fi’liyyah. Perbuatan Nabi SAW tersebut menjadi rujukan bagi umat Islam dalam melaksanakan sholat.
- Sunnah Taqririyyah: Nabi SAW melihat seorang sahabat yang berpuasa sunnah pada hari Senin dan Kamis, dan beliau tidak melarangnya. Sikap diam Nabi SAW ini menjadi contoh sunnah taqririyyah, menunjukkan bahwa puasa sunnah pada hari tersebut diperbolehkan.
Tabel Perbandingan Ketiga Bentuk Sunnah
| Nama Bentuk Sunnah | Definisi | Contoh | Perbedaan dengan Bentuk Lain |
|---|---|---|---|
| Sunnah Qauliyyah | Sunnah yang disampaikan melalui perkataan Nabi SAW. | Hadits tentang keutamaan bersedekah. | Berbeda dengan sunnah fi’liyyah yang berupa perbuatan dan sunnah taqririyyah yang berupa persetujuan diam. |
| Sunnah Fi’liyyah | Sunnah yang diwujudkan melalui perbuatan Nabi SAW. | Cara Nabi SAW wudhu. | Berbeda dengan sunnah qauliyyah yang berupa perkataan dan sunnah taqririyyah yang berupa persetujuan diam. |
| Sunnah Taqririyyah | Sunnah yang diwujudkan melalui persetujuan diam Nabi SAW terhadap perbuatan sahabat. | Nabi SAW membiarkan sahabatnya berpuasa sunnah pada hari Senin dan Kamis. | Berbeda dengan sunnah qauliyyah dan fi’liyyah yang berupa pernyataan atau perbuatan langsung dari Nabi SAW. |
Ilustrasi Perbedaan Ketiga Bentuk Sunnah
Bayangkan sebuah lingkaran besar yang mewakili ajaran Islam. Di dalam lingkaran tersebut terdapat tiga lingkaran yang lebih kecil, saling tumpang tindih, namun tetap terpisah. Lingkaran pertama mewakili sunnah qauliyyah, digambarkan dengan simbol kata-kata yang keluar dari mulut Nabi. Lingkaran kedua mewakili sunnah fi’liyyah, digambarkan dengan simbol Nabi SAW sedang melakukan suatu tindakan. Lingkaran ketiga mewakili sunnah taqririyyah, digambarkan dengan simbol Nabi SAW mengamati dan membiarkan suatu perbuatan tanpa intervensi, namun dengan ekspresi wajah yang menunjukkan persetujuan.
Ketiga lingkaran tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain, membentuk keseluruhan ajaran Islam yang komprehensif.
Sunnah Qauliyah (Sunnah Perkataan)

Para ulama telah mengklasifikasikan sunnah Nabi Muhammad SAW menjadi tiga bentuk, salah satunya adalah sunnah qauliyah atau sunnah perkataan. Sunnah qauliyah mencakup segala ucapan, perkataan, dan sabda Rasulullah yang mengandung hukum, petunjuk, atau ajaran Islam. Memahami dan mengamalkan sunnah qauliyah sangat penting karena merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang memberikan panduan dalam berbagai aspek kehidupan.
Pengertian Sunnah Qauliyah dan Contohnya
Sunnah qauliyah secara sederhana diartikan sebagai segala sesuatu yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW yang mengandung nilai ajaran Islam. Ucapan tersebut bisa berupa perintah, larangan, kabar gembira, peringatan, penjelasan, atau bentuk komunikasi lainnya. Contohnya mencakup sabda beliau tentang sholat, puasa, zakat, haji, akhlak mulia, hingga adab dalam bergaul. Perkataan beliau yang termaktub dalam hadits-hadits sahih merupakan sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat muslim.
Pengaplikasian Sunnah Qauliyah dalam Kehidupan Sehari-hari
Pengaplikasian sunnah qauliyah dalam kehidupan sehari-hari sangat luas dan beragam. Setiap perkataan Nabi SAW mengandung hikmah dan pelajaran berharga yang dapat dipetik dan diamalkan. Contohnya, sabda beliau tentang pentingnya kejujuran dapat diterapkan dalam berbagai situasi, baik dalam urusan pribadi maupun pekerjaan. Begitu pula dengan sabda beliau tentang pentingnya menjaga silaturahmi, yang mendorong kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat.
Contoh Hadits Sunnah Qauliyah dan Maknanya
Salah satu contoh hadits sunnah qauliyah adalah hadits yang berbunyi: “Barangsiapa yang menjaga lisannya dan kemaluannya, maka Aku menjamin baginya surga.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menekankan pentingnya menjaga ucapan dan perbuatan agar terhindar dari dosa dan meraih kebahagiaan di akhirat. Maknanya, kita dihimbau untuk senantiasa berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, karena hal tersebut akan berpengaruh besar terhadap kehidupan kita di dunia dan akhirat.
Pentingnya Mempelajari Sunnah Qauliyah
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”
Hadits di atas menekankan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, termasuk sunnah qauliyah, sebagai pedoman hidup. Dengan memahami dan mengamalkan sunnah qauliyah, kita dapat meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah SAW serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Potensi Kesalahpahaman dalam Memahami Sunnah Qauliyah dan Cara Mengatasinya
Potensi kesalahpahaman dalam memahami sunnah qauliyah dapat muncul dari beberapa hal, misalnya pemahaman yang dangkal terhadap konteks hadits, interpretasi yang keliru, atau penerapan yang tidak sesuai dengan zaman. Untuk mengatasinya, perlu adanya pemahaman yang mendalam terhadap hadits dengan merujuk pada kitab-kitab hadits yang sahih dan penjelasan dari para ulama yang berkompeten. Selain itu, perlu juga mempertimbangkan konteks sosial dan budaya saat hadits tersebut disampaikan agar tidak terjadi penafsiran yang menyimpang.
Sunnah Fi’liyah (Sunnah Perbuatan)
Para ulama telah mengklasifikasikan sunnah Nabi Muhammad SAW menjadi tiga jenis, salah satunya adalah sunnah fi’liyah atau sunnah perbuatan. Sunnah ini merujuk pada segala tindakan dan perilaku Nabi yang dianjurkan untuk diikuti oleh umatnya. Memahami dan mengamalkan sunnah fi’liyah merupakan bagian penting dalam upaya meneladani kehidupan Rasulullah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengamalannya memberikan keberkahan dan menuntun kita pada jalan hidup yang baik.
Sunnah fi’liyah mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah mahdhah hingga muamalah. Dengan mempelajari dan mengamalkannya, kita dapat meneladani akhlak mulia Rasulullah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan berdampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Pengertian Sunnah Fi’liyah dan Contohnya
Sunnah fi’liyah secara sederhana diartikan sebagai segala perbuatan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan baik dalam konteks ibadah maupun kehidupan sehari-hari yang kemudian menjadi teladan bagi umatnya. Perbuatan-perbuatan tersebut bukan merupakan kewajiban (fardhu), namun sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena mengandung pahala dan keutamaan. Contoh-contohnya sangat beragam, meliputi ibadah seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan membaca Al-Qur’an, serta perilaku dalam kehidupan sehari-hari seperti bersilaturahmi, bersedekah, dan menjaga kebersihan.
- Shalat Sunnah Rawatib: Shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat fardhu, seperti shalat sunnah Dhuha, misalnya. Shalat ini memiliki keutamaan tersendiri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Puasa Sunnah Senin dan Kamis: Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah pada hari Senin dan Kamis. Puasa ini diharapkan dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan.
- Membaca Al-Qur’an: Membaca Al-Qur’an merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Membacanya dengan tartil dan memahami maknanya akan memberikan pahala dan ketenangan jiwa.
- Bersilaturahmi: Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan kerabat merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini akan mempererat tali persaudaraan dan memperpanjang umur.
- Bersedekah: Bersedekah merupakan amalan sunnah yang sangat mulia. Sedekah dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik berupa uang, barang, maupun tenaga.
- Menjaga Kebersihan: Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kebersihan merupakan sebagian dari iman.
Sunnah Fi’liyah sebagai Pedoman dalam Ibadah dan Muamalah
Sunnah fi’liyah menjadi pedoman penting dalam beribadah dan bermuamalah. Dalam ibadah, sunnah fi’liyah melengkapi dan menyempurnakan ibadah fardhu, menambah ketaqwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara dalam muamalah, sunnah fi’liyah mengajarkan akhlak mulia, etika berinteraksi, dan cara terbaik dalam menjalani kehidupan sosial.





