Dalam situasi seperti ini, pejabat dituntut memiliki empati tinggi serta menunjukkan kepekaan sosial, bukan justru menampilkan gaya hidup yang terkesan berlebihan dan jauh dari realitas masyarakat.
“Jangan sampai perilaku yang dinilai tidak beretika ini menjadi momok di tengah masyarakat. Hal itu bisa memicu kemarahan dan kekecewaan publik, karena pejabat sejatinya digaji oleh rakyat, namun justru terkesan kehilangan empati,” lanjutnya.
Gadjah Puteh juga menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi publik serta membangun kepercayaan masyarakat melalui sikap yang sederhana, responsif, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Sebagai penutup, organisasi tersebut mengajak seluruh pejabat untuk kembali pada esensi pengabdian, yakni melayani masyarakat dengan hati, menjaga kehormatan jabatan, serta menjadi teladan dalam setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.(johanes)





