Oleh: Johanes, Pemerhati Sosial Politik | Penulis Aktif AtjehUpdate.com
Ada yang menarik dari istilah yang dilontarkan Said Didu: “Perang Semesta melawan Genk Solo.”
Sebuah frasa sederhana, tapi seperti peluru yang menembus kabut politik Indonesia hari ini.
Sebab di tengah langit kekuasaan yang dikira tenang, ternyata sedang bergemuruh perang antara mereka yang ingin “menyelamatkan republik” dengan mereka yang ingin “menyelamatkan diri sendiri.”
• Genk Solo dan Benteng Kekuasaan
Said Didu tidak sedang berpuisi. Ia menyindir struktur kekuasaan yang kini terasa seperti koper besar dari Solo—semua yang penting harus muat di dalamnya.
Menteri, jenderal, komisaris, kepala lembaga — semua seperti diikat satu benang merah: loyalitas personal, bukan komitmen nasional.
Dari istana hingga kampung halaman, aroma sentralisasi baru tercium kuat.
Dulu Orde Baru menciptakan “pusat” di Jakarta.
Sekarang, “pusat” itu pindah sedikit ke selatan—ke Solo.
Dan di sekitar pusat itulah lahir apa yang disebut orang-orang dengan nada separuh takut, separuh sinis: Genk Solo.
• Perang Semesta: Perlawanan yang Tak Berpakaian
“Perang Semesta” bukanlah perang bersenjata, tapi perlawanan moral.
Bukan dengan peluru, tapi dengan pikiran yang masih berani waras.
Mereka yang tergabung dalam “perang semesta” bukan pasukan formal. Ada ekonom yang tak mau ikut menyanjung, aktivis yang masih percaya pada republik, pensiunan jenderal yang lebih setia pada sumpah ketimbang istana.
Mereka berserak, tapi memiliki satu kesadaran yang sama: kekuasaan telah berubah menjadi cermin kebanggaan diri, bukan alat untuk rakyat.
• Jokowi dan Bayangan Kekuasaan yang Terlalu Lama
Dalam catatan sejarah, hampir semua pemimpin yang jatuh bukan karena musuh, tapi karena cermin.
Cermin yang mereka pandangi terlalu lama, sampai lupa: wajah yang mereka lihat bukan lagi milik rakyat, tapi milik kekuasaan itu sendiri.





