Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
NasionalPolitik Dalam Negeri

Said Didu ; Perang Semesta vs Genk Solo

99
×

Said Didu ; Perang Semesta vs Genk Solo

Sebarkan artikel ini
Potret dinamika politik nasional Indonesia antara kekuatan moral rakyat yang disebut Perang Semesta melawan dominasi kekuasaan berpusat di lingkaran Genk Solo, menggambarkan ketegangan antara idealisme dan nepotisme dalam pemerintahan.
Said Didu melontarkan istilah “Perang Semesta melawan Genk Solo” yang kini menjadi simbol perlawanan moral terhadap kekuasaan politik yang terpusat dan beraroma kekeluargaan.

Oleh: Johanes, Pemerhati Sosial Politik | Penulis Aktif AtjehUpdate.com

Ada yang menarik dari istilah yang dilontarkan Said Didu: “Perang Semesta melawan Genk Solo.”
Sebuah frasa sederhana, tapi seperti peluru yang menembus kabut politik Indonesia hari ini.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Sebab di tengah langit kekuasaan yang dikira tenang, ternyata sedang bergemuruh perang antara mereka yang ingin “menyelamatkan republik” dengan mereka yang ingin “menyelamatkan diri sendiri.”

• Genk Solo dan Benteng Kekuasaan

Said Didu tidak sedang berpuisi. Ia menyindir struktur kekuasaan yang kini terasa seperti koper besar dari Solo—semua yang penting harus muat di dalamnya.
Menteri, jenderal, komisaris, kepala lembaga — semua seperti diikat satu benang merah: loyalitas personal, bukan komitmen nasional.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Dari istana hingga kampung halaman, aroma sentralisasi baru tercium kuat.
Dulu Orde Baru menciptakan “pusat” di Jakarta.
Sekarang, “pusat” itu pindah sedikit ke selatan—ke Solo.

Dan di sekitar pusat itulah lahir apa yang disebut orang-orang dengan nada separuh takut, separuh sinis: Genk Solo.

• Perang Semesta: Perlawanan yang Tak Berpakaian

“Perang Semesta” bukanlah perang bersenjata, tapi perlawanan moral.
Bukan dengan peluru, tapi dengan pikiran yang masih berani waras.

Mereka yang tergabung dalam “perang semesta” bukan pasukan formal. Ada ekonom yang tak mau ikut menyanjung, aktivis yang masih percaya pada republik, pensiunan jenderal yang lebih setia pada sumpah ketimbang istana.
Mereka berserak, tapi memiliki satu kesadaran yang sama: kekuasaan telah berubah menjadi cermin kebanggaan diri, bukan alat untuk rakyat.

• Jokowi dan Bayangan Kekuasaan yang Terlalu Lama

Dalam catatan sejarah, hampir semua pemimpin yang jatuh bukan karena musuh, tapi karena cermin.
Cermin yang mereka pandangi terlalu lama, sampai lupa: wajah yang mereka lihat bukan lagi milik rakyat, tapi milik kekuasaan itu sendiri.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses