Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Opini

Pemilihan Langsung Datok: Cermin Retak di Balik Demokrasi Desa

108
×

Pemilihan Langsung Datok: Cermin Retak di Balik Demokrasi Desa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pemilihan Datok di sebuah desa, menampilkan warga sedang mencoblos di kotak suara bertuliskan “Pilihan”, dengan latar rumah kayu dan spanduk “Pemilihan Datok”.
Fhoto : Ilustrasi Suasana pemilihan langsung Datok di sebuah desa, menggambarkan partisipasi masyarakat dalam menentukan pemimpin kampung.

Yang menarik, setelah pemilihan selesai, tak ada yang benar-benar kalah.
Yang menang naik ke panggung, tersenyum, menyalami semua orang.
Yang kalah duduk di bawah pohon, berkata lirih, “begitulah takdir.”
Dan rakyat kembali ke sawah, ke pasar, ke warung kopi.

Hidup berjalan lagi. Demokrasi pun seperti hujan yang reda meninggalkan genangan yang cepat kering di bawah panas matahari realitas.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Barangkali di sinilah makna sejatinya: pemilihan langsung bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi Datok, tapi sejauh mana kita belajar memilih dengan hati yang tidak mudah disogok.
Karena ketika hati rakyat bisa dibeli, demokrasi hanyalah panggung sandiwara, di mana naskahnya ditulis oleh orang berduit, dan rakyat cuma figuran yang diminta tersenyum.

Di kampung itu, suara rakyat masih terdengar setiap sore di warung kopi yang sama, dengan cangkir yang sama.
Dan mungkin, selama mereka masih mau berbicara tentang keadilan dan kejujuran, demokrasi belum benar-benar mati.

Ia hanya sedang duduk di pojok warung, menunggu seseorang yang berani menyeduhnya tanpa gula.(Johanes/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses