Jokowi, yang dulu simbol kesederhanaan dan harapan, kini seperti tenggelam dalam politik keluarga besar.
Yang dulu melawan oligarki, kini dikelilingi oligarki versi baru — lengkap dengan anak, menantu, dan sekutu yang dipoles kata “perubahan.”
Dan ketika seseorang terlalu lama berkuasa, bahkan diamnya bisa jadi ancaman, dan senyumnya bisa jadi perintah.
• Negara sebagai Proyek Kekeluargaan
Indonesia hari ini seperti perusahaan keluarga besar: direksi diisi menantu, komisarisnya sahabat, direkturnya bekas tim sukses.
Rakyat? Ya, tetap jadi outsourcing, yang hanya dipanggil kalau waktu kampanye tiba.
Maka tak heran bila orang seperti Said Didu menyebutnya “Genk Solo.”
Sebab sistem ini sudah bukan sekadar birokrasi, tapi jaringan solidaritas asal-usul — dari meja makan hingga kursi kabinet.
• Akhir dari Sebuah Zaman
Setiap kekuasaan yang terlalu ingin mengabadikan dirinya, justru sedang menggali kubur sendiri.
Dan sejarah Indonesia selalu punya cara unik untuk mengembalikan keseimbangan: dari jalanan, dari kampus, dari obrolan warung kopi.
“Perang Semesta” mungkin belum punya markas. Tapi punya amarah yang sah.
Karena rakyat lelah melihat kekuasaan yang berubah menjadi panggung keluarga — bukan republik.
• Penutup
Jika benar ini Perang Semesta melawan Genk Solo, maka jangan anggap remeh kekuatan semesta.
Ia tidak punya jenderal, tapi punya kebenaran.
Tidak punya senjata, tapi punya kesadaran.
Dan bila sejarah Indonesia benar, maka perang ini tak akan dimenangkan oleh mereka yang paling kuat—
melainkan oleh mereka yang paling tulus mencintai negeri ini, tanpa embel-embel Genk di belakangnya.
__Semoga





