“Rumah kami rusak, lantai masih penuh lumpur. Mau kembali juga belum ada apa-apa,” ujar salah seorang warga pengungsi.
Anak-anak terlihat bermain di sekitar tenda, sementara para orang tua berupaya bertahan dengan bantuan seadanya. Kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi, dan kenyamanan tempat tinggal masih menjadi persoalan utama di pengungsian.
Hampir sebulan pascabencana, warga berharap adanya percepatan penanganan dari pemerintah, khususnya terkait perbaikan rumah dan kepastian relokasi sementara. Mereka khawatir kondisi ini akan terus berlarut jika tidak ada langkah nyata.
Banjir yang melanda Aceh Tamiang sebelumnya merendam ribuan rumah di sejumlah kecamatan, memaksa warga mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka. Hingga kini, proses pemulihan masih berjalan, sementara para korban terus menunggu kepastian untuk kembali menjalani kehidupan normal.(Patih)





