Lebih lanjut, Gadjah Puteh mengingatkan bahwa jabatan Menteri Keuangan bukan hal yang ringan. Sejak era Presiden SBY, setiap kali terjadi pergantian dari Sri Mulyani ke figur lain, sering muncul gejolak, baik di pasar maupun di lingkaran birokrasi. Menurut Gadjah Puteh, hal itu tidak terlepas dari masih kuatnya pengaruh orang-orang Sri Mulyani di kementerian dan lembaga keuangan negara. “Akibatnya, Menteri Keuangan pengganti sering tidak mendapat dukungan penuh. Berbagai isu sengaja digoreng, mulai dari defisit anggaran, kebijakan fiskal, hingga gosip internal yang membuat publik ragu,” tambahnya.
Gadjah Puteh yang selama ini fokus pada kontrol sosial dan pengawasan kebijakan publik optimis bahwa Purbaya Yudhi Sadewa memiliki kapasitas teknokrat sekaligus pengalaman birokrasi yang mumpuni. Namun ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan sangat besar, terutama dalam memastikan tata kelola anggaran yang transparan, memperbaiki komunikasi fiskal dengan publik, dan mengakhiri bayang-bayang rezim lama.
“Momentum reshuffle ini harus menjadi titik balik. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam feodalisme birokrasi. Menteri Keuangan baru harus tegas dan berani membuka jalan baru yang lebih bersih, akuntabel, dan berpihak pada rakyat,” tutup pernyataan Gadjah Puteh.(red)





